Self-Disclosure Remaja dalam Hubungan Teman dan Orang Tua: Studi Kasus Remaja dengan Orang Tua Bercerai
Abstract
Kondisi orang tua yang bercerai memiliki pengaruh yang dirasakan oleh anak terutama yang memasuki fase remaja. Dalam fase remaja, pencarian jati diri anak dimulai dan membutuhkan peran dari orang tua agar tidak salah dalam menentukan pilihan. Dengan kondisi orang tua yang bercerai, remaja dapat merasakan adanya putus asa dengan keadaan, kehilangan peran orang tua, hingga malu akan kondisi yang dimilikinya. Pertemanan menjadi tempat lain bagi remaja dengan orang tua yang bercerai untuk membantu remaja memiliki tempat berbagi keluh kesah yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-disclosure yang dilakukan remaja dengan orang tua yang bercerai terhadap teman dan orang tuanya dengan metode penelitian kualitatif studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara semi terstruktur. Subjek penelitian berjumlah satu orang remaja berusia 20 tahun dengan kondisi orang tua bercerai. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa self-disclosure yang dimiliki oleh remaja dengan orang tua yang bercerai cukup tinggi. Ditemukan juga adanya perbedaan self-disclosure yang dilakukan oleh remaja dengan orang tua bercerai kepada temannya dan orang tua, ditandai adanya hasil analisis data self-disclosure terhadap teman yang lebih tinggi dibandingkan terhadap orang tua.