Gambaran Resiliensi Pada Penyintas Gempa Lombok Tahun 2018
Abstract
Indonesia merupakan negara dengan tingkat aktivitas seismik tinggi karena letaknya di pertemuan tiga lempeng besar dunia. Salah satu gempa besar yang berdampak luas terjadi di Lombok pada tahun 2018, menimbulkan kerusakan fisik dan gangguan psikologis yang signifikan pada masyarakat. Kondisi tersebut menuntut kemampuan individu dan komunitas untuk beradaptasi dan bangkit dari keterpurukan melalui resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aspek dan bentuk resiliensi yang dimiliki oleh penyintas gempa Lombok tahun 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subjek penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling dengan kriteria penyintas yang secara langsung terdampak gempa dan masih menetap di wilayah tersebut. Data dikupulkan melalui wawancara daring dan dianalisis dengan menafsirkan tema-tema utama dari pengalaman subjek. Hasil penelitian menujukkan tujuh aspek resiliensi yang dialami penyintas, yaitu regulasi emosi, konrol impuls, optimisme, kemampuan menganalisis masalah, empati, efikasi diri, dan pencapaian. Setiap aspek berperan dalam membantu penyintas menyesuaikan diri dengan kondisi pascabencana serta memperkuat keyakinan spiritual dan sosial mereka. Kesimpulan dari penelitian ini mengaskan bahwa resiliensi merupakanfaktor kunci dalam pemulihan psikologis dan sosial penyintas bencana, serta dapat dikembangkan melalui dukungan sosial, religiusitas, dan nilai-nilai budaya lokal.