Dinamika Regulasi Diri Pada Korban Pelecehan Seksual
Abstract
Pelecehan seksual merupakan fenomena yang berdampak serius terhadap kesehatan psikologis korban, termasuk kesulitan dalam meregulasi emosi, pikiran, dan perilaku. Regulasi diri yang terganggu dapat memperburuk kondisi psikologis korban, meningkatkan risiko trauma berkepanjangan, serta menghambat proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika regulasi diri pada korban pelecehan seksual, dengan menyoroti bagaimana korban mengenali emosi, menilai diri, serta merespons pengalaman traumatis yang dialami. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan melibatkan tiga partisipan perempuan berusia 20–21 tahun yang pernah mengalami pelecehan seksual secara fisik pada masa remaja. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi non-partisipatif, kemudian dianalisis secara tematik untuk menemukan makna pengalaman subjektif partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika regulasi diri korban berlangsung melalui tiga tema utama, yaitu mengenali emosi, penilaian diri, dan reaksi. Pada fase awal, korban menunjukkan emosi marah, bingung, atau tidak menyadari pelecehan yang dialami. Selanjutnya, muncul penilaian negatif terhadap diri berupa rasa malu, rendah diri, dan menyalahkan diri. Namun, korban juga mengembangkan strategi adaptif, seperti menghindari pelaku, berbagi cerita dengan teman, hingga mencapai penerimaan diri dengan dukungan sosial dan keluarga. Kesimpulannya, regulasi diri korban pelecehan seksual bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal serta dukungan eksternal. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan intervensi berbasis dukungan sosial dan komunitas dalam membantu korban membangun kembali kontrol diri dan kepercayaan diri setelah trauma.