Forgiveness Dewasa Awal yang Kehilangan Kasih Sayang Orang Tua Pasca Perceraian
Abstract
Perceraian orang tua memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan psikologis anak, termasuk dalam membentuk proses forgiveness (pemaafan). Anak-anak sering kali menghadapi konflik internal antara kebutuhan untuk melindungi diri dan dorongan untuk memahami keputusan orang tua mereka. Selain itu, pengalaman traumatis dan perbandingan sosial dengan teman sebaya dapat memperkuat emosi negatif, seperti rasa marah dan insecure, yang memengaruhi proses pemaafan secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami forgiveness pada dewasa awal yang kehilangan kasih sayang orang tua pasca perceraian. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi pada tiga partisipan berusia dewasa awal. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola pada tiga dimensi forgiveness yaitu avoidance motivation, revenge motivation, dan benevolence motivation. Partisipan menunjukkan respons yang beragam, mulai dari menghindari interaksi untuk melindungi diri, menghadapi emosi negatif seperti kemarahan dan rasa insecure, hingga mencoba memahami keputusan orang tua dengan tingkat empati yang bervariasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa proses forgiveness bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, konteks relasi, serta kebutuhan emosional masing-masing individu.
Kata Kunci: Perceraian orang tua; Forgiveness; Dewasa awal