Azra Gambaran Asupan Makronutrien pada Balita dengan Kondisi Bawah Garis Merah
Abstract
Makronutrien yang terdiri dari energi, protein, karbohidrat, dan lemak merupakan zat gizi utama yang sangat dibutuhkan balita untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan. kekurangan asupan makronutrien dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, rendahnya daya tahan tubuh, hingga meningkatkan risiko gizi kurang. Balita dengan status Bawah Garis Merah (BGM) pada Kartu Menuju Sehat (KMS) merupakan kelompok yang berisiko tinggi mengalami defisit gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan makronutrien pada balita dengan kondisi BGM . penelitian menggunakan desain observasional kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, dilaksanakan selama satu bulan di Puskesmas Wiyung. Subjek penelitian adalah balita usia 12-59 bulan dengan status BGM yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan metode food recall 3x24 jam. Asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak dihitung menggunakan daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) dan dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG), kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia balita adalah 29,6 bulan (±8,8), dengan berat badan 9,3 kg (±1,3) dan tinggi badan 81,8 cm (±7,2). Nilai Z-score TB/U -1,4 (±1,09) dan BB/U -1,6 (±1,2) mengindikasi status gizi kurang. Rata-rata asupan energi balita adalah 672,2 Kkal (±218,4), protein 22,3 g (±7,6), karbohidrat 96,2 g (31,4), dan lemak 21,6 g (±9,4). Seluruh balita 100% mengalami defisit energi, karbohidrat, dan lemak, sedangkan asupan protein bervariasi dengan 50% dalam kategori cukup dan 50% dalam kategori kurang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa balita dengan kondisi BGM mengalami deficit energi, karbohidrat, dan lemak yang signifikan, sementara protein relative bervariasi. Defisit energi dan lemak menjadi masalah utama yang berkontribusi terhadap rendahnya status gizi balita BGM, sehingga diperlukan intervensi gizi melalui edukasi, pemanfaatan pangan lokal padat energi, dan optimalisasi program makanan tambahan untuk mencegah perburukan status gizi.