Ratapan Kesedihan dalam Syair "Saqallahu Qabran" Karya al- Farazdaq (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure)
Abstract
Abstrak :
Sebagaimana ungkapan Shakespeare 'so long as men can breathe or eyes can see, so long lives this and this gives life to thee'. Selama manusia masih bernafas, atau mata masih mampu memandang, maka selama itu pula puisi tetap lestari, dan ia akan memberimu kehidupan yang bermakna. Melalui pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure dengan konsep signifier (penanda) dan signified (petanda), maka sangat penting untuk memahami makna puisi al- Farazdaq. Al- Farazdaq adalah salah satu penyair yang cukup terkenal dari era Umayyah. Beliau telah menggubah syair yang bertema Al- ritsa’ yang berjudul “Saqallahu Qabran”. Dalam penelitian ini penulis tertarik untuk mencari makna kesedihan kemudian mendeskripsikan kata yang mengandung unsur semiotik yaitu penanda dan petanda yang ada dalam syair ratapan yang berjudul “Saqallahu Qabran” karya al- Farazdaq melalui pisau pendekatan semiotik Ferdinand De Saussure. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Data dalam penelitian berupa kata atau frasa yang diambil dari puisi yang berjudul Saqallahu Qabran. Data yang diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure lalu dikaitkan dengan makna yang ingin diungkapkan penyair dalam sebuah bait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap kata atau frasa dalam syair ini sebagai signifier membawa makna yang lebih dalam sebagai signified. Elemen-elemen seperti “kuburan”, “kain kafan”, “debu”, dan “air mata” tidak hanya menggambarkan keadaan fisik atau emosional, tetapi juga melambangkan tema-tema yang lebih luas seperti kehormatan, duka, keterpisahan, dan perlindungan spiritual.
