Budaya mbatik Luhur GBRAy Murdokusumo Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun 1944-2018
Abstract
Budaya mbatik keraton dilakukan oleh keluarga Raja. Mbatik yang dimaksud adalah mbatik tulis halus oleh GBRAy Mordokusumo, Putri Hamengku Buwono Ke-IX (w. 1988) dengan KRAy Pintoko Purnomo (w. 1993) yang dilakukannya dengan cara belajar dari ibundanya dan neneknya secara turun-temurun. Batik tulis ndalem keraton hanyalah ditulis dengan tangan dengan menggunakan malam dan canting yang memerlukan waktu antara 3-6 bulan, di keraton ini mbatik ndalem dilakukan oleh para abdi dalem yang berlangsung sejak Hamengku Buwono 1 (1756). Mbatik ndalem yang dilangsungkan oleh KRAy Pintoko Purnomo dengan hasil batik pusakanya yaitu: Batik Parangseling Hok, Batik Parangseling Kestubo, Batik Parang Ceplok Sedorowerti, Batik Parang Barong, Batik Kampuh, Batik Parang Gendreh. KRAy Pintoko Purnomo belajar mbatik dari ibundanya KRAy Adipati Anom Hamengku Negoro (w.1966) yang memiliki motif pusaka batik Bligon, Kembang Tebo, Parang Klitik Gendreh. Dalam kelangsungan kegiatan mbatik ini GBRAy Murdukusumo menjadi pewaris mbatik luhur. GBRAy belajar mbatik dari ibu dan neneknya, sehingga motif batik hasil dari GBRAy Murdokusomo meliputi Sido Mukti, Sido Asih Luhur, Wahyu Temurun, Babon Angrem, Batik Udan Liris, Batik Parang Sengkulon, Batik Semen Romo, Batik Gegot, Batik Pari Kesit, Batik Parang Mangkono, dll. Bentuk dari penelitian ini merupakan historiografi kategori sejarah kebudayaan dengan pendekatan yang relevan dari bantuan ilmu antropologi. Budaya mbatik di keraton menjadikan keraton sebagai tonggak dan pusat budaya yang sudah barang tentu keraton menjadi pusat peradaban, di dalamnya mencakup kesenian terdidik yang indah dalam batik tulis halus yang pembuatannya membutuhkan kesabaran dan kecermatan.
