Representasi Nelayan Kecil dalam Wacana Resmi NCICD 2024-2025: Analisis Wacana Kritis van Dijk
Abstract
Penelitian ini menelaah bagaimana aktor negara, media, dan komunitas membingkai risiko pesisir serta penurunan tanah di Pantura–Jakarta melalui wacana Giant Sea Wall/NCICD pada 2024–2025, beserta implikasinya bagi keadilan ekologis. Berbasis kerangka van Dijk, analisis mencakup makrostruktur (tema dominan), superstruktur (pola argumen), dan mikrostruktur (pilihan leksikal, gramatika agensi, eufemisme). Korpus mencakup rilis kebijakan, liputan arus utama, dan teks komunitas relevan. Tiga temuan kunci muncul. Pertama, eufemisme teknokratis seperti “perlindungan” dan “ketahanan wilayah” menggeser fokus dari tata air darat, ekstraksi air tanah, dan distribusi beban menuju satu ikon solusi di garis pantai. Kedua, techno-branding “giant/hybrid sea wall” serta ikon “sepuluh juta bambu” membangun ethos inovasi sambil menutupi ketidakpastian teknis, biaya sosial, dan trade-off ekologis. Ketiga, kontra-wacana komunitas menonjolkan dampak pada nelayan kecil, akses pelayaran, dan potensi stagnasi banjir darat bila pembenahan DAS tertinggal. Keterbatasan studi terletak pada ketergantungan pada teks terbuka dan tidak menilai performa hidrolik. Implikasi praktis meliputi keharusan definisi operasional istilah kunci, metrik kinerja yang dapat diaudit, matriks siapa-mendapat-apa untuk risiko/manfaat, serta partisipasi berbasis FPIC yang mengakui pengetahuan lokal. Implikasi sosial menunjuk perlunya pergeseran dari narasi “mega tanggul” menuju portofolio adaptasi berlapis yang menggabungkan pengendalian ekstraksi air tanah, tata air hulu, ruang retensi, dan rehabilitasi ekosistem. Kontribusi artikel ini adalah integrasi kerangka van Dijk dengan lensa keadilan ekologis untuk menyingkap cara bahasa menormalkan, melegitimasi, dan memprioritaskan kebijakan pesisir berskala besar.
.png)