Konstruksi Legitimasi dan Resistensi dalam Pemberitaan Tambang Nikel di Raja Ampat dan Wawonii: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough
Abstract
Penelitian ini menganalisis bagaimana praktik pemberitaan membangun legitimasi dan resistensi terhadap tambang nikel di pulau kecil Indonesia, dengan fokus pada Raja Ampat dan Wawonii (2024–2025). Tujuannya adalah memetakan strategi representasi aktor (negara, korporasi, komunitas, LSM, dan media) serta menautkannya dengan konteks sosial-politik hilirisasi nikel dan perlindungan pulau kecil. Metode yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis model Fairclough melalui tiga dimensi: tekstual (diksi, metafora, struktur sintaksis dan intertekstualitas), praktik wacana (produksi, penyebaran, sumber otoritatif), dan praktik sosial-budaya (kebijakan, ekonomi ekstraktif, konservasi). Data berupa korpus berita daring 2024–2025 dari media nasional, internasional, dan dokumen resmi yang dipilih secara purposif. Hasil menunjukkan wacana legitimasi menekankan kepatuhan prosedural, “good mining practice,” pengawasan negara, serta pembingkaian batas geopark; sementara wacana resistensi menonjolkan kerentanan ekologis pulau kecil, hak komunitas lokal, dampak pada pariwisata, dan momentum litigasi yang berujung pada sanksi administratif. Pada level meso, ketergantungan pada sumber resmi dan kepemilikan media memengaruhi penentuan agenda; pada level makro, tarik-menarik antara agenda hilirisasi dan konservasi menghasilkan wacana yang berkompetisi dan berubah. Kesimpulannya, media tidak netral: ia mengonstruksi arena legitimasi–resistensi yang bergeser mengikuti dinamika kebijakan dan perlawanan hukum-sipil.
.png)