Eksploitasi Gajah dalam Sistem Hiburan dan Krisis Ekologis pada Cerpen Akhir Sang Gajah Karya Sasti Gotama
Abstract
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis representasi eksploitasi gajah dalam sistem hiburan serta krisis ekologis yang menyertainya dalam cerpen Akhir Sang Gajah karya Sasti Gotama melalui perspektif ekokritik Greg Garrard. Dalam konteks globalisasi, eksploitasi hewan menjadi persoalan ekologis yang berkaitan erat dengan relasi kuasa manusia terhadap alam dan makhluk non-manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa teks cerpen Akhir Sang Gajah. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat terhadap kutipan naratif yang merepresentasikan praktik eksploitasi hewan dan dampaknya. Analisis dilakukan dengan mengaitkan teks sastra dengan enam konsep utama ekokritik Garrard, yaitu pollution, wilderness, apocalypse, dwelling, animals, dan earth. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini merepresentasikan eksploitasi gajah sebagai praktik sistematis dalam industri hiburan yang mengabaikan kesejahteraan hewan dan keseimbangan ekologis. Konsep animals dan dwelling menampilkan perampasan ruang hidup gajah, sementara pollution dan apocalypse merefleksikan kerusakan lingkungan dan ancaman kepunahan akibat eksploitasi berkelanjutan. Akhir Sang Gajah menempatkan eksploitasi hewan bukan hanya sebagai persoalan moral, tetapi sebagai krisis ekologis yang lahir dari dominasi manusia atas alam. Penelitian ini memperkaya kajian ekokritik dalam sastra Indonesia dengan menegaskan posisi hewan sebagai subjek ekologis yang terdampak langsung oleh sistem hiburan modern.
.png)