Lagu Sebagai Situs Memori: Transformasi Makna “Kemarin” (Seventeen) dalam Kajian Memori Kolektif Maurice Halbwachs
Abstract
Penelitian ini menganalisis transformasi makna lagu “Kemarin” (Seventeen) pascaperistiwa tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 dalam kerangka memori kolektif Maurice Halbwachs. Pertanyaan utamanya: bagaimana lagu populer berfungsi sebagai medium pengingat bersama, siapa aktor yang menggerakkannya, serta praktik dan artefak apa yang menstabilkan ingatan tersebut. Penelitian memakai desain studi kasus kualitatif dengan dukungan kuantifikasi ringan. Data mencakup arsip media dan audiovisual (pra 2018 vs pasca 2018), etnografi digital atas praktik komemoratif tahunan, serta wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan (fans, jurnalis, penyelenggara). Analisis dilakukan melalui pengodean tematik, komparasi temporal, dan pemetaan praktik-aktor-medium. Temuan menunjukkan resemantisasi “Kemarin” dari balada kehilangan personal menjadi penanda duka komunal, difasilitasi oleh kerangka sosial yang terdiri dari komunitas penggemar, keluarga/penyintas, media, dan penyelenggara peringatan. Artefak audiovisual, tanggal 22 Desember, serta lokasi Tanjung Lesung berfungsi sebagai jangkar memori yang memungkinkan aktivasi ingatan lintas waktu. Penelitian juga memperlihatkan migrasi dari memori komunikatif ke memori kultural melalui institusionalisasi ritual, dokumenter, dan pengarsipan digital. Secara teoretis, studi ini memvalidasi proposisi Halbwachs tentang sifat sosial, situasional, dan selektif memori; secara praktis menawarkan implikasi bagi pengarsipan memorial, desain komemorasi yang etis, dan integrasi literasi kebencanaan. Keterbatasan terutama terkait bias algoritmik dan keteraksesan arsip, yang dibahas bersama strategi mitigasinya.
Kata kunci: Memori Kolektif; Maurice Halbwachs; Komemorasi; Budaya Populer; Etnografi Digital.
.png)