Relasi Kuasa Pada Fenomena Tawaran Jadi Buzzer Ajakan Damai Indonesia dalam Ruang Digital: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough

  • Satria Wahyu Firdausyi Gunawan UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia
  • Haris Shofiyuddin UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Abstract

Abstract:
This research analyzes the phenomenon of "buzzer offers to influencers" on social media. This
phenomenon has become problematic because it occurred during demonstrations that were still
heated in several areas, and another narrative has circulated claiming that the offer came from a
10-year-old child.. Using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA), yhis research
seeks to uncover how this discourse construction is produced through digital communication
practices with the attempt to utilize independent public figures to influence public opinion. The
research method used is descriptive qualitative with a Critical Discourse Analysis approach,
focusing on three dimensions: text, discourse practice, and social practice. The results show that the
discourse that exists is a disguised hegemonic effort to control the public narrative amidst social
instability. In the text dimension, polite phrases (euphemisms) are used to disguise the political
nature of the offer. In the discourse practice dimension, this phenomenon attempts to control public
opinion in the digital space through influencers as intermediaries. Meanwhile, in the social practice
dimension, this phenomenon reflects how power is used to manipulate public narratives, reproduce
ideologies, and ultimately influence public perception of the influencers involved.
Keywords: Critical Discourse Analysis, Norman Fairclough, Social Media

Abstrak:
Penelitian ini menganalisis fenomena “tawaran menjadi buzzer ajakan damai di ruang
digital”. Fenomena ini menjadi problematik karena terjadi pada massa demonstrasi
yang masih panas di beberapa daerah, serta beredarnya narasi lain yang mengeklaim
bahwa tawaran tersebut berasal dari seorang anak berusia 10 tahun. Dengan
menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough, Penelitian ini
berupaya mengungkap bagaimana kontruksi wacana ini diproduksi melalui praktik
komunikasi digital dengan usaha memanfaatkan figur publik independen untuk
mempengaruhi opini publik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis dengan berfokus pada tiga
dimensi; teks, praktik wacana, praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
wacana yang hadir tersebut merupakan upaya hegemoni yang disamarkan untuk
mengendalikan narasi publik ditengah ketidakstabilan sosial. Pada dimensi teks
terdapat penggunaan frasa yang sopan (eufemisme) untuk menutupi sifat politik dari
tawaran. Pada dimensi praktik wacana, fenomena tersebut berusaha mengontrol opini
publik di ruang digital melalui influencer sebagai perantara. Sementara itu, pada dimensi
praktik sosial, fenomena tersebut merefleksikan bagaimana kekuasaan digunakan untuk
memanipulasi narasi publik, mereproduksi ideologi, dan pada akhirnya dapat
mempengaruhi pandangan publik pada para influencer yang terlibat.
Kata kunci: Analisis Wacana Kritis, Norman Fairclough, Media Sosial

Published
2026-01-14
Section
Articles