Tradisi Colokan: Representasi Datangnya Malam Lailatul Qadar
Studi Kasus di Desa Grabagan, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban
Abstract
Penelitian ini mengkaji tentang makna simbolis tradisi colokan dalam konteks datangnya malam Lailatul Qadar, proses pelaksanaannya, serta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan tradisi ini di era modern. Tradisi colokan merupakan tradisi menyalakan obor di malam Lailatul Qadar yang dilakukan oleh masyarakat Desa Grabagan, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban. Tradisi ini dilaksanakan secara turun temurun, dengan menyalakan obor pada malam ke-21 dan ke-29 Ramadhan. Dalam penyusunan artikel ini, peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan antropologi. Sumber primer yang didapatkan berasal dari wawancara mendalam dengan masyarakat di Desa Grabagan, observasi langsung, serta sumber sekunder yang didapatkan berasal dari artikel dan jurnal yang berhubungan dengan pembahasan topik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi colokan memiliki makna sebagai rasa syukur atau mengharap barokah atas datangnya bulan suci Ramadhan, agar warga setempat ingat bahwa Ramadhan telah memasuki hari penting, yaitu sepertiga malam terakhir Ramadhan atau malam Lailatul Qadar. Selain itu, tradisi ini dapat mempererat hubungan sosial sesama masyarakat. Namun, modernisasi turut memengaruhi pelaksanaan tradisi ini, dengan munculnya tantangan dalam pelestariannya, terutama terkait dengan minat generasi muda.
