Petilasan Mbah Singojoyo sebagai Pusat Tradisi Sedekah Bumi di Desa Made Surabaya
Abstract
Tradisi Sedekah Bumi di Petilasan Mbah Singojoyo Desa Made,Kota Surabaya.Merupakan salah satu tradisi sebagai ungkapan syukur Masyarakat Made kepada Tuhan.Tradisi ini biasanya dilakukkan setahun sekali yang diadakan sekitar bulan September hingga Oktober.Tradisi ini sangat menarik perhatian dari masyarakat lokal hingga masyarakat luar.Didalam Tradisi ini menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan dan gotong royong antar warga Desa Made.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai Tradisi Sedekah Bumi yang berpusat di petilasan Mbah Singojoyo sebagai Tradisi Yang masih eksis dimasa sekarang dan terletak dipinggiran kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan (Penelitian lapangan). Objek yang diteliti yaitu Tradisi sedekah bumi yang berada di Desa Made. Subjek pelitian ini adalah juru kunci petilasan Mbah Singojoyo. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini Desa Made terletak di Kecamatan Sambikerep, Surabaya Barat, dengan luas 4,47 km² dan ketinggian sekitar 12 meter di atas permukaan laut. Awalnya, desa ini merupakan gabungan dari pedukuhan Watulawang, Ngemplak, dan Made, yang dulunya terpisah dari perkampungan lain di Surabaya. Seiring dengan perkembangan kota, Desa Made mengalami kemajuan pesat dan kini menjadi bagian dari Surabaya, meskipun masih mempertahankan aktivitas pertanian tradisional. Desa ini mempunyai beberapa versi tentang sejarah desanya. Tradisi sedekah bumi di Desa Made berakar dari sejarah dan mitologi lokal yang berkaitan dengan Mbah Singojoyo, yang dianggap sebagai pendiri desa. Tradisi ini berkembang seiring dengan perubahan sosial dan ekonomi masyarakat, terutama setelah proyek perluasan kota Surabaya pada tahun 1990-an. Masyarakat Made mengadakan ritual sedekah bumi sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian dan untuk memohon keberkahan. Tata cara tradisi sedekah bumi melibatkan berbagai ritual, termasuk doa bersama dan penyajian hasil pertanian sebagai persembahan. nasi tumpeng raksasa yang dibuat bersama adalah tujuan dari acara sedekah bumi. Selain acara sedekah bumi yang dilakukan terdapat juga lomba yang bertujuan untuk memeriahkan acara tersebut. Makna dari tradisi ini adalah sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang diperoleh, serta untuk memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas di antara warga.
