Transformasi Tradisi Manten Pegon di Surabaya: Antara Kearifan Lokal dan Modernitas
Abstract
Artikel ini mengkaji transformasi tradisi manten Pegon di Surabaya, mencerminkan interaksi antara kearifan lokal dan pengaruh modernitas. Manten Pegon, ritual pernikahan hasil akulturasi budaya Belanda, Jawa, Arab, dan Tionghoa, diperkirakan muncul pada abad ke-19 seiring dengan migrasi penduduk luar. Perpaduan budaya tersebut, tercermin dalam pemakaian busana pengantin. Dalam upacara ini, pengantin perempuan mengenakan busana panjang bergaya Eropa, sementara pengantin laki-laki memakai jubah dan sorban Arab. Meski terjadi pencampuran budaya, unsur asli Jawa tetap ada, terlihat dalam prosesi pertemuan pengantin yang biasa disebut loro pangkon. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi, dan analisis data. Hasilnya menunjukkan modifikasi dalam pelaksanaan tradisi, seperti penggunaan alat musik modern dan kostum yang lebih sederhana. Teknologi juga berperan dalam dokumentasi dan penyesuaian tradisi dengan tren sosial, menunjukkan bagaimana tradisi dapat bertahan dan beradaptasi dalam masyarakat urban yang berubah.
