Tradisi Nyadran di Desa Bluru Kidul Sidoarjo
Abstract
Selametan adalah ritual tradisional yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan dalam berbagai momen penting kehidupan. Ritual ini memiliki berbagai nama sesuai dengan tradisi daerah, seperti Pelet Betheng di Madura dan Ngupati di Jawa. Salah satu bentuk ritual selametan di Jawa adalah Nyadran, yang merupakan upacara dengan pengaruh Hindu-Buddha yang telah terakulturasi dengan nilai-nilai Islam sejak masa penyebaran Islam oleh Wali Sanga. Nyadran melibatkan kegiatan mengarak sesajian ke laut dan ziarah ke makam leluhur, seperti Makam Dewi Sekardadu di Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan tradisi Nyadran di Bluru Kidul, Sidoarjo, dan melihatnya melalui perspektif tauhid berdasarkan konsep syirik menurut Fakhruddin Ar-Razi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif teologis, dengan data yang diperoleh dari studi pustaka dan wawancara lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun ritual Nyadran dianggap sebagai ungkapan rasa syukur, beberapa praktek di dalamnya, seperti persembahan sesaji dan permohonan keselamatan kepada makam, mengandung elemen syirik yang bertentangan dengan ajaran tauhid Islam.
