Tradisi Babat Makam dalam Haul Sunan Drajat: Kontinuitas Nilai Sosial dan Religius Menjelang Ramadhan
Abstract
Tradisi babat makam merupakan salah satu praktik budaya religius yang hidup di masyarakat Drajat, khususnya dalam rangkaian peringatan haul Sunan Drajat yang bertepatan dengan menjelang bulan Ramadhan. Kegiatan ini berupa kerja bersama membersihkan makam Sunan Drajat beserta makam-makam di sekitarnya, yang tidak hanya dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan tokoh agama, tetapi juga sebagai wujud kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan nilai sosial dan religius yang terkandung dalam tradisi babat makam serta bagaimana tradisi ini tetap eksis di tengah arus modernisasi. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan wawancara tokoh masyarakat setempat. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi babat makam mengandung tiga dimensi utama: dimensi religius sebagai media menguatkan spiritualitas menjelang Ramadhan, dimensi sosial berupa penguatan solidaritas komunitas, dan dimensi budaya sebagai upaya melestarikan identitas lokal. Kesimpulannya, tradisi babat makam bukan sekadar aktivitas fisik membersihkan makam, melainkan juga simbol kontinuitas nilai yang mengikat masyarakat dalam bingkai religiusitas dan kebudayaan.
