Rekonstruksi Sejarah dan Peran Moderasi Beragama: Konflik Sektarian Maluku 1999–2002
Abstract
Konflik sektarian Maluku 1999–2002 menjadi salah satu peristiwa paling kompleks dalam sejarah sosial-politik Indonesia pasca-Reformasi, menyingkap rapuhnya kohesi sosial di tengah masyarakat plural. Konflik ini dipicu oleh akumulasi ketimpangan sosial-ekonomi, persaingan birokrasi lokal, dan polarisasi identitas agama yang dipolitisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang konflik, eskalasinya, serta peran moderasi beragama dalam proses rekonsiliasi. Metode yang digunakan adalah penelitian sejarah berbasis studi pustaka, meliputi jurnal ilmiah, buku akademik, laporan penelitian, dan arsip berita, dengan tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama berperan krusial dalam mengubah relasi antarumat beragama dari permusuhan menjadi kerja sama. Perjanjian Malino II, inisiatif tokoh agama, serta program pendidikan dan bantuan kemanusiaan lintas komunitas terbukti efektif memulihkan kepercayaan, dan menanamkan nilai pluralisme. Penelitian ini menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar wacana normatif, melainkan strategi historis yang mampu membangun perdamaian dan kohesi sosial jangka panjang, sekaligus menjadi pelajaran penting bagi penyelesaian konflik komunal di Indonesia.
