Identitas Budaya Lokal dalam Pencak Sumping Banyuwangi

  • Muhammad Khafid Muktadir UIN Sunan Ampel Surabaya
  • Wasid UIN Sunan Ampel Surabaya
Keywords: Budaya Lokal, Pencak Sumping

Abstract

Tradisi Pencak Sumping merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan identitas lokal. Tradisi ini diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur. Pencak Sumping tidak hanya menampilkan seni bela diri pencak silat, tetapi juga diperkaya dengan unsur simbolik berupa kue sumping (nogo sari) yang melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat. Pada masa lalu, tradisi ini dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah sekaligus media penguatan solidaritas warga. Namun, dalam perkembangannya, makna tersebut bergeser menjadi seni pertunjukan tahunan yang rutin digelar setiap Hari Raya Idul Adha, lengkap dengan ritual kenduri dan Ider Bumi. Sejak tahun 2011, tradisi ini secara resmi diberi nama Pencak Sumping, yang mempertegas jati diri masyarakat Mondoluko serta menjadikannya simbol identitas budaya yang membedakan mereka dari komunitas lain. Dengan demikian, Pencak Sumping tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan adat, tetapi juga sebagai perekat sosial, sarana pelestarian budaya Osing, dan potensi wisata budaya Banyuwangi.

Published
2025-11-05
Section
Articles