Analisis Hubungan Spiritual Guru-Murid Syekh Wasil dengan Prabu Jayabaya: Tinjauan Terhadap Isi Teks Kitab Musarar
Abstract
Perpaduan antara tradisi spiritual lokal dan ajaran Islam menghasilkan narasi yang kaya makna filosofis dan historis. Salah satu hubungan yang menarik dan sarat dimensi spiritual adalah hubungan antara Syekh Wasil (Pangeran Makkah) dan Prabu Jayabaya. Dalam teks Musarar yang dibahas dalam buku Hubungan Prabu Sri Aji Jayabaya Dengan Syekh Wasil Pangeran Makkah, Prabu Jayabaya digambarkan berguru kepada Maulana Ali Syamsul Zein yang diyakini sebagai Syekh Wasil, membahas Kitab Musarar yang menjadi dasar munculnya ramalan-ramalan Jayabaya dalam sinkretisme Jawa-Islam. Penelitian ini meliputi: (1) penggambaran figur Syekh Wasil dalam teks Musarar; (2) bentuk hubungan guru–murid antara Syekh Wasil dan Prabu Jayabaya; dan (3) implikasi ajarannya terhadap karya ramalan Prabu Jayabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka yang berfokus pada pengumpulan, pembacaan, pencatatan, dan pengolahan data yang bersumber dari buku utama dan literatur sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa figur Syekh Wasil adalah konstruksi literer yang mempertemukan warisan Hindu-Buddha dengan Islam dalam teks Musarar. Hubungan spiritual ini berfungsi sebagai legitimasi kultural bagi proses Islamisasi di Jawa, khususnya Kediri, melalui otoritas simbolik tokoh masa lalu. Oleh karena itu, Musarar tidak hanya dipandang sebagai teks ramalan, tetapi juga sebagai bukti historis dan simbolik perjumpaan peradaban Hindu-Buddha dan Islam di Kediri.
Â
