Surakarta dalam Arus Pergerakan Nasional Indonesia: Peran Elite Keraton dan Masyarakat
Abstract
Penelitian ini membahas posisi dan peran Surakarta dalam dinamika Pergerakan Nasional Indonesia pada kurun 1908–1945 M dengan menitikberatkan pada kontribusi elite Keraton Surakarta dan partisipasi masyarakat. Menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sosio-historis serta kerangka teori nasionalisme Benedict Anderson, penelitian ini menempatkan Surakarta sebagai ruang strategis tempat bertemunya kekuasaan tradisional, organisasi modern, dan dinamika sosial perkotaan dalam proses pembentukan kesadaran kebangsaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surakarta memiliki kedudukan penting sebagai simpul politik, ekonomi, dan kultural yang memungkinkan transmisi gagasan nasionalisme melalui jaringan transportasi, pers, pendidikan, dan organisasi sosial-keagamaan. Elite Keraton Surakarta berperan sebagai penyedia modal kultural dan legitimasi simbolik bagi pergerakan nasional, sebagaimana tercermin dalam dukungan Pakubuwono X terhadap organisasi modern serta peran Radjiman Wedyodiningrat dalam perumusan dasar negara melalui BPUPKI. Di sisi lain, organisasi-organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Taman Siswa berfungsi sebagai wadah sosialisasi ide-ide kebangsaan di kalangan masyarakat Surakarta. Penelitian ini menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia tidak semata-mata lahir dari wacana politik modern, tetapi juga dari integrasi tradisi lokal dan interaksi kolektif antara elite dan masyarakat akar rumput. Dengan demikian, Surakarta menjadi salah satu lokus penting dalam pembentukan identitas nasional Indonesia.
