Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi
Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabayaen-USKonferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam 3064-5557Rekonstruksi Sejarah dan Peran Moderasi Beragama: Konflik Sektarian Maluku 1999–2002
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3633
<p>Konflik sektarian Maluku 1999–2002 menjadi salah satu peristiwa paling kompleks dalam sejarah sosial-politik Indonesia pasca-Reformasi, menyingkap rapuhnya kohesi sosial di tengah masyarakat plural. Konflik ini dipicu oleh akumulasi ketimpangan sosial-ekonomi, persaingan birokrasi lokal, dan polarisasi identitas agama yang dipolitisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang konflik, eskalasinya, serta peran moderasi beragama dalam proses rekonsiliasi. Metode yang digunakan adalah penelitian sejarah berbasis studi pustaka, meliputi jurnal ilmiah, buku akademik, laporan penelitian, dan arsip berita, dengan tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama berperan krusial dalam mengubah relasi antarumat beragama dari permusuhan menjadi kerja sama. Perjanjian Malino II, inisiatif tokoh agama, serta program pendidikan dan bantuan kemanusiaan lintas komunitas terbukti efektif memulihkan kepercayaan, dan menanamkan nilai pluralisme. Penelitian ini menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar wacana normatif, melainkan strategi historis yang mampu membangun perdamaian dan kohesi sosial jangka panjang, sekaligus menjadi pelajaran penting bagi penyelesaian konflik komunal di Indonesia.</p>Dewi ArofahAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05219Transformasi Tradisi Brayaan Maulid Nabi Muhammad Saw dari Gen X - Gen Alpha di Desa Tambaksumur, Waru, Sidoarjo
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4050
<p>Kelahiran Nabi Muhammad Saw merupakan peristiwa agung yang selalu dirayakan oleh umat Islam dengan penuh suka cita. Di desa Tambaksumur, Waru, Sidoarjo, terdapat tradisi untuk memeriahkan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad Saw ini, yang dikenal dengan tradisi <em>brayaan</em>. Tradisi yang sudah dilalui oleh berbagai generasi usia selama bertahun-tahun lamanya. Tradisi <em>brayaan</em> ini dimulai bulan <em>Rabiul Awwal</em> dengan berbagai kegiatan, seperti khataman Al Qur’an bersama, pembacaan <em>dhiba’</em> serta <em>barzanji</em>, berbagi makanan, memberikan uang atau peralatan rumah tangga. Penelitian ini berfokus pada bagaimana praktik tradisi <em>brayaan, </em>bentuk perubahan yang terjadi pada tradisi tersebut selama ini dan faktor transformasi tradisi <em>brayaan</em>. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif historis-etnografis dengan wawancara terhadap masyarakat setempat, observasi langsung dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah penulis menemukan bahwa tradisi <em>brayaan </em>ini bukan hanya sebagai tempat berkumpul melestarikan tradisi yang telah mengakar tetapi juga sebagai wadah untuk memperkuat keimanan terhadap agama yang dianut. Perubahan-perubahan yang ada adalah gagasan atau cara untuk memikat warga sekitar dari semua generasi usia supaya ikut memeriahkan tradisi ini. Peralihan tersebut merupakan cara masyarakat desa Tambaksumur untuk tetap menjaga kearifan lokal tradisi <em>brayaan</em> ditengah semakin beragamnya penduduk yang datang di desa tersebut.</p>Zalfaa’ Naura FiytarofMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-0521015Lirik Macapat Serat Menak sebagai Media Dakwah Islam: Analisis Filologis-Historis
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3889
<p>Serat Menak sebagai karya sastra Jawa klasik menyimpan nilai dakwah Islam yang disampaikan melalui lirik macapat, sehingga tujuan adanya penelitian ini untuk mengkaji fungsi lirik tersebut sebagai media dakwah dalam konteks budaya Jawa. Pendekatan yang digunakan ialah filologis-historis dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui telaah pustaka terhadap Serat Menak yang kemudian menjadi data utama. Manuskrip tersebut tersimpan di Museum Mpu Tantular dan dokumentasi milik DISBUDPAR Jawa Timur dan Serat Menak dokumentasi Kemendiskamen Yogyakarta. Adapun sumber pendukung berasal dari literatur keislaman dan penelitian terkait sastra dakwah Jawa. Analisis dilakukan melalui tahap telaah historis-filologis, kemudian menyoroti simbol, pesan moral, dan fungsi dakwah yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi historis, lirik macapat Serat Menak berperan sebagai sarana dakwah kultural yang efektif karena memadukan nilai tauhid, akhlak, dan perjuangan dalam bentuk estetika yang akrab bagi masyarakat Jawa. Struktur tembang memperkuat daya ingat dan penerimaan pesan dakwah, Adapun sisi filologisnya adalah dari bagaimana tembang tersebutmerepresentasikan kisah pahlawan Islam sebagai cerminan proses akulturasi nilai Timur Tengah dan budaya lokal.</p>Muhammad Fardan An Nabil PrihantyaAli Muhdi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-0521626Transformasi Peran Perempuan dalam Ranah Publik Islam Awal Abad ke-20: Perspektif Sejarah Sosial
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3632
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan kontestasi wacana <br>yang dilakukan oleh perempuan pelopor dalam mentransformasi peran mereka di ruang <br>publik dunia Islam pada awal abad ke-20. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kemunculan <br>perempuan Muslim di ranah publik melalui pendidikan, jurnalisme, dan organisasi yang <br>tidak lepas dari konvergensi modernisme Islam, kolonialisme, dan nasionalisme. <br>Namun, berbeda dengan studi-studi sebelumnya yang kerap berfokus pada aspek <br>institusional atau wacana secara terpisah, penelitian ini menitikberatkan pada agensi <br>perempuan sebagai pelaku sejarah dengan menggunakan pendekatan sejarah sosial dan <br>metode sejarah naratif. Sumber data primer meliputi dokumen historis seperti <br>otobiografi, surat kabar era tersebut dan arsip organisasi, yang dianalisis melalui <br>kerangka teori strukturasi Anthony Giddens. Hasil penelitian mengungkap bahwa <br>transformasi tersebut bukanlah hasil determinisme sosial, melainkan produk dari strategi <br>aktif para agen perubahan seperti Rahmah El Yunusiyyah, Rohana Kudus, dan Malak <br>Hifni Nasif. Mereka memanfaatkan jaringan sosial, melakukan negosiasi identitas, dan <br>yang terpenting, melakukan reinterpretasi teks keagamaan untuk membangun legitimasi <br>dan menghadapi resistensi dari kekuatan tradisional. Dengan demikian, penelitian ini <br>menyimpulkan bahwa gerakan perempuan pada era tersebut merupakan sebuah <br>kontestasi wacana yang sukses merebut otoritas keagamaan dan mendefinisikan ulang <br>modernitas Islam secara partisipatif.</p>Lina AmaliaImam Ghazali Said
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-0522736Masjid Krue Se Pattani: Jejak Arsitektur Islam di Asia Tenggara dan Identitas Keislaman Masyarakat Melayu Thailand Selatan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4043
<p>Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi Masjid Krue Se di Pattani, Thailand Selatan, sebagai warisan arsitektur Islam sejak 1514 pada masa Sultan Muzaffar Shah. Eksistensi masjid tersebut merepresentasikan interaksi antara budaya Islam dan masyarakat Melayu yang hingga hari ini terjaga dan tetap berdiri kokoh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter arsitektur dan nilai sosial-keagamaan yang terkandung dalam bangunan masjid sebagai simbol identitas masyarakat Muslim minoritas di Pattani, Thailand. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan langsung (dokumentasi visual tahun 2025) dan studi literatur terhadap sumber sejarah lokal serta penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Krue Se cukup terjaga keasliannya, dibuktikan melalui struktur bata merah tanpa plester, dinding tebal, serta pintu dan jendela dengan lengkung runcing (pointed arch) yang menunjukkan pengaruh Timur Tengah. Elemen-elemen ini mencerminkan fase awal arsitektur Islam di Asia Tenggara sebelum munculnya bentuk berkubah besar. Selain itu, temuan lapangan menunjukkan adanya fungsi sosial baru dari masjid sebagai pusat peringatan sejarah dan simbol perlawanan kultural terhadap kebijakan asimilasi nasional Thailand. Masyarakat Pattani memaknai masjid ini bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat memori kolektif umat Islam Melayu yang mempertahankan identitasnya di tengah dominasi politik non-Muslim.</p>Ahmad Cholil Afsyor
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-0523746Heeramandi dan Perlawanan Terhadap Kolonial (Analisis Film)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4034
<p>Artikel ini mengkaji bagaimana dinamika perlawanan Heeramandi terhadap Kolonial Inggris dalam Film “Heeramandi: The Diamond Bazaar (2024)”. Film yang disutradarai dan diproduksi Sanjay Leela Bhansali, menyoroti narasi sejarah, kebudayaan, romansa, serta perjuangan para tawaif di wilayah Heeramandi, Lahore, ketika Inggris telah mendominasi sebagian wilyah India pada tahun 1940-an. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis analisis konten yang meneliti narasi dan citra visual representasi perlawanan konlonial dalam film. Penelitian ini menggunakan Teori Postkolonialisme Robert J. C. Young yang merujuk pada bukunya “Imperial, Coloni, Postcoloni” yang mana relevan dengan topik penelitian artikel ini. Hasil yang diperoleh adalah pertama, deskripsi film Heeramandi dari episode 1 sampai 8, penjelasan seluruh komponen dalam film ini membantu peneliti dan pembaca untuk memahami isi film secara mendetail. Kedua, media yang digunakan masyarakat untuk melawan kolonial, bertujuan untuk mengungkap apa saja media perlawanan yang digambarkan dalam film. Ketiga, analisis representasi perlawanan terhadap kolonial dalam Film Heeramandi, peneliti mengkritisi dan membandingkan bagaimana perlawanan komunitas Heeramandi terhadap kolonial hingga dampak setelah perlawanan yang ditampilkan di dalam film dengan korelasi fakta sejarah serta bagaimana respon penonton menanggapi seluruh adegan yang ada pada film.</p>Nadiyah Aulia ZulvaAli Muhdi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-0524774Tradisi Ziarah ke Makam Sunan Bonang: Kajian Sejarah Sosial Keagamaan Masyarakat Tuban
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4033
<p>Tradisi ziarah makam wali merupakan salah satu ekspresi keagamaan yang mendalam bagi masyarakat Islam Nusantara, terutama di kalangan penganut Ahlussunnah wal Jamaah. Ziarah ke makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa Wali Songo yang berperan penting dalam menyebarkan Islam di Jawa. Lebih dari sekadar ritual spiritual, tradisi ini mencerminkan hubungan harmonis antara aspek teologis, sosial, dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap asal-usul dan makna dari tradisi ziarah ke makam Sunan Bonang, mendeskripsikan bentuk ritual dan aktivitas keagamaan yang menyertainya, serta perkembangan dan dampak sosial keagamaan tradisi ziarah makam Sunan Bonang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode yang bersifat historis dan deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui wawancara langsung dengan juru kunci makam Sunan Bonang, observasi lapangan terhadap kegiatan ziarah, serta dokumentasi literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ziarah makam Sunan Bonang berakar pada ajaran Islam tentang ziarah kubur sebagai sarana mengingat kematian dan memperkuat keimanan. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini diwujudkan melalui kegiatan keagamaan seperti tahlil akbar, istighosah, pengajian, dan haul tahunan yang memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial masyarakat. Seiring perkembangan zaman, tradisi ini juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan, terutama dalam sektor wisata religi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan demikian, tradisi ziarah makam Sunan Bonang berfungsi sebagai media pelestarian nilai-nilai keislaman sekaligus penguat sosial budaya masyarakat Tuban.</p>Muh. Naufal RamadhanWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-12-022025-12-0227586Relasi Masyarakat Islam dan Etnis Tionghoa di Kediri dalam Perspektif Historis
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3957
<p>Penelitian ini membahas dinamika hubungan sosial dan keagamaan antara etnis Tionghoa dan komunitas Islam di Kediri dalam perspektif historis. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana pola interaksi sosial, proses akulturasi budaya, serta faktor-faktor yang memengaruhi keharmonisan hubungan antara kedua kelompok tersebut dari masa kolonial hingga pasca-Orde Baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengkaji sejarah hubungan sosial dan agama antara etnis Tionghoa dan masyarakat Islam di Kediri 2) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi relasi keagamaan 3) bentuk kerja sama dan toleransi dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kualitatif dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, memanfaatkan arsip pemerintah, surat kabar lokal, serta wawancara dengan tokoh masyarakat Tionghoa dan Muslim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kedua komunitas berlangsung dinamis namun cenderung harmonis, ditandai dengan kerja sama ekonomi, interaksi budaya, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial-keagamaan. Meski mengalami tekanan politik pada masa Orde Baru, relasi tersebut pulih pasca-Reformasi melalui peningkatan dialog lintas etnis dan kegiatan sosial bersama yang memperkuat nilai toleransi di Kediri.</p>Varian Al 'adilaAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-0528794Sejarah Peran Pemikiran Sayyid Muhammad al-Maliki dalam Perkembangan Ilmu Hadits
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3846
<p>Fenomena penyalahgunaan hadits untuk kepentingan individu di era modern begitu memprihatinkan. Banyak hadits yang tersebar digunakan tanpa verifikasi sanad dan matan. Fenomena lain seperti penyebaran hadits palsu melalui media sosial, penggunaan hadits tanpa sumber yang jelas dan tidak berdasar dalam ceramah-ceramah viral, hingga komersialisasi hadits dalam konten motivasi dan bisnis islami. Bahkan, sebagian kelompok ekstrem menggunakan hadits secara selektif untuk melegitimasi kekerasan dan intoleransi. Dari fenomena tersebut, pemahaman tentang ilmu hadits sebagai dasar dalam mengidentifikasi hadits menjadi penting dalam menjaga kesakralan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Dalam hal ini, pemikiran ulama ahli hadits diperlukan dalam membantu memahami ilmu hadits. Diantaranya adalah Sayyid Muhammad al-Maliki yang merupakan salah satu ulama kontemporer abad ke-20 yang berperan penting dalam perkembangan ilmu hadits di era modern seperti saat ini. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis dan kajian pustaka yang bertujuan membahas tentang biografi Sayyid Muhamad al-Maliki, sejarah penulisan hadits menurut Sayyid Muhammad al-Maliki, serta pemikiran Sayyid Muhammad al-Maliki terhadap perkembangan ilmu hadits. Adapun hasil dalam penelitian ini adalah mengulas pemikiran Sayyid Muhammad al-Maliki tentang sejarah dan perkembangan ilmu hadits yang tertulis dalam karya-karyanya yang telah tersebar dan dijadikan rujukan di beberapa instansi pendidikan di Indonesia, khususnya di Pesantren.</p>Fawwaz Dimas FahrizaAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05295107Relevansi Pemikiran Sejarah Ibn Khaldun dalam Perspektif Historiografi Modern
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3834
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan pemikiran historiografi Ibn Khaldun dalam muqaddimah, meninjau perkembangan historiografi modern, serta menganalisis relevansi antara keduanya. Ibn khaldun menawarkan metode penulisan sejarah yang kritis dengan menekankan verifikasi fakta, hubungan sebab-akibat, serta konsep ‘assabiyah sebagai dasar dinamika peradaban. Sementara itu, historiografi modern berkembang dengan menekankan objektivitas, penggunaan data empiris, dan pendekatan sosial dalam memahami peristiwa sejarah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, juga memanfaatkan muqaddimah sebagai sumber primer, serta dilengkapi dengan literatur sekunder dan literatur modern seperti karya e. H carr, louis gottschalk, dan john tosh yang membahas metodologi penulisan sejarah dalam konteks historiografi modern. Khususnya dalam aspek metodologis seperti sikap kritis dan pentingnya analisis rasional. Dengan demikian, pemikiran ibn khaldun tetap relevan dalam memperkuat dasar ilmiah penulisan sejarah pada era kontemporer.</p>Azza ShabilaAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052108111Sejarah dan Pemikiran Said Nursi dalam Mursyid asy-Syabab: Implikasi Bagi Pembinaan Karakter Pemuda Islam Kontemporer
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3953
<p>Setelah runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1924, kekuasaan di Turki beralih kepada Mustafa Kemal Ataturk yang berorientasi pada peradaban Barat, dengan menerapkan sekularisme secara ketat. Umat Islam kehilangan arah politik maupun intelektual, sementara pemudanya terjerumus dalam kemerosotan moral. Melihat situasi ini, Said Nursi berusaha menghidupkan kembali nilai -nilai Islam di tengah arus kebarat-baratan melalui sejumlah tulisan, seperti Mursyid as-Syabab (Tuntunan Generasi Muda) yang berisi kumpulan nasihat Said Nursi yang termaktub dalam Risalah an-Nur. Tulisan ini bertujuan menelaah bagaimana karya tersebut sebagai warisan peradaban Islam kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan, yakni dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari buku, artikel, jurnal, serta literatur terkait. Dalam hal ini menunjukkan bahwa Said Nursi memandang pendidikan moral dan spiritual pemuda merupakan pilar utama kebangkitan Islam, melalui penolakan terhadap hedonisme, penanaman keikhlasan, serta penguatan iman. Jika dilihat dari konteks sejarah, karyanya menjadi respons terhadap sekularisasi Turki, sedangkan dalam konteks kontemporer menjadi pijakan yang relevan bagi pemuda Islam dan penguatan peradaban Islam kontemporer</p>Dewi SintiyahMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052112120Konsep Pendidikan Karakter Islami dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim Karya KH Hasyim Asy‘ari dan Relevansinya di Masa Kini
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4071
<p><em>This study aims to explore the existence of Islamic character education in KH Hasyim Asy'ari whose teachings are contained in his book Adabul "Alim wal Muta'allim, and investigate how these teaching techniques can be applied in the context of education. He, who is a cleric and founder of Nahdlatul Ulama, considers education as the main way to help people become intelligent, have good morals, and behave politely. moral responsibility, and the relationship between knowledge and action. The findings of this study show that the concept of Islamic character education according to KH Hasyim Asy'ari focuses on the formation of good morals through exemplifying, sincerity, and respect for knowledge. Values such as discipline, humility, responsibility, and honesty are an important part in building students' character from him can be an important basis for developing an Islamic character education system in modern schools.</em></p>Muhammad Alfirusdani SyaifuddinImam Ghazali Said
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052121135Representasi Sejarah KH. Abdul Wahab Hasbullah di YouTube Matahatipemuda, 2022: Sebuah Tinjauan Kritis
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3936
<p>Penelitian ini terjadi sebab maraknya representasi narasi sejarah di media sosial yang sering kali tidak merujuk pada sumber dan analisis intensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti representasi sejarah KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam dua video biografi pada kanal <em>YouTube</em> <em>“</em>MatahatiPemuda<em>”</em> pada tahun 2022, yaitu <em>“Biografi KH Abdul Wahab Chasbullah - Episode Pertama”</em> dan <em>“Perjuangan & Kisah Dibalik Wafatnya KH Abdul Wahab Chasbullah - Episode Kedua.”</em> Metode Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggabungkan Metode Penelitian Sejarah, Analisis Konten Digital, dan Studi Pustaka. Tahapan penelitian sejarah meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Dapat dismpulkan hasilnya bahwa KH. Abdul Wahab Hasbullah direpresentasikan sebagai tokoh pahlawan nasional, ulama multitalenta, mempunyai jiwa nasionalisme serta wawasan yang mendalam. Pembangunan tokoh direpresentasikan dengan narasi kepahlawanan, gambar visual arsip foto hitam putih, logo, cuplikan film, serta narator yang tegas. Meskipun penyajian video bersifat terarah dan informatif, beberapa aspek belum tersampaikan seperti ijazah <em>Sholawat Burdah</em>, dan kontribusinya dalam Komite Hijaz belum dijelaskan secara mendalam.</p>Isyatul Ula Salsabila
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052136145Humanisme Tauhidi Ali Syari’ati dan Relevansinya terhadap Pemberontakan Petani Banten 1888
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4048
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep humanisme tauhidi Ali Syari’ati dan relevansinya dalam memahami peristiwa Pemberontakan Petani Banten 1888 sebagaimana ditulis oleh Sartono Kartodirdjo. Humanisme tauhidi merupakan konsep kemanusiaan yang berpijak pada prinsip tauhid, di mana Tuhan menjadi pusat nilai dan manusia berperan sebagai khalifah yang bertanggung jawab menegakkan keadilan sosial. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis pustaka, penelitian ini mengkaji karya Ali Syari’ati yang membahas dimensi spiritual dan sosial manusia, kemudian membandingkannya dengan konteks sosial historis perlawanan rakyat Banten terhadap penindasan kolonial. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlawanan petani Banten tidak semata reaksi spontan terhadap penderitaan ekonomi, tetapi mencerminkan kesadaran moral dan spiritual sebagaimana dimaknai dalam kerangka humanisme tauhidi Ali Syari’ati. Kesadaran ini menegaskan pentingnya iman yang aktif, yakni iman yang diwujudkan dalam perjuangan menegakkan kemanusiaan dan keadilan. Dalam konteks Indonesia modern, nilai-nilai humanisme tauhidi tetap relevan sebagai paradigma pembebasan sosial yang menolak ketimpangan dan dehumanisasi struktural. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa perpaduan antara kajian historis dan pemikiran teologis dapat memberikan perspektif baru dalam memahami dinamika perjuangan rakyat terhadap ketidakadilan.</p>Ahmad Baharuddin HanafiWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052146159Nilai Budaya dalam Kontes Pasar Bandeng di Gresik
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3928
<p>Tradisi Pasar Bandeng di Gresik merupakan warisan budaya pesisir yang menampilkan perpaduan antara nilai religius, sosial, dan identitas masyarakat setempat. Tradisi ini tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi menjelang Idulfitri, tetapi juga berfungsi sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan kebanggaan daerah. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasar Bandeng telah mengalami transformasi dari kegiatan jual beli hasil tambak menjadi festival budaya yang bernilai edukatif dan ekonomis. Nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya meliputi nilai religius yang menegaskan rasa syukur masyarakat, nilai sosial yang menumbuhkan solidaritas dan gotong royong, nilai identitas yang memperkuat citra Gresik sebagai kota santri dan pesisir, serta nilai estetika yang mencerminkan kreativitas masyarakat. Makna simbolik bandeng kawak sebagai lambang rezeki dan kesejahteraan menjadi perekat sosial yang menjaga kelestarian tradisi di tengah modernisasi. Dengan demikian, Pasar Bandeng berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan antara kemajuan dan kearifan lokal masyarakat Gresik.harus bersifat faktual dan ringkas.</p>Selma Maulidia Elsya WalyAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052160172Sejarah Runtuhnya Rezim Muammad Qaddafi di Libya (2011-2020)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3890
<p>Penelitian ini mengkaji tentang dinamika runtuhnya rezim Muammar Qaddafi di Libya dari perspektif historis dengan menyoroti faktor politik, ekonomi, sosial, dan ideologis yang melatarbelakanginya. Selama lebih dari empat dekade kekuasaan, Qaddafi membangun sistem pemerintahan Jamahiriya yang diklaim berlandaskan kedaulatan rakyat sebagaimana tertuang dalam <em>The Green Book</em>. Kajian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan historis dan studi Pustaka serta teori yang digunakan yaitu teori otoritanisme dari Juan J. Linz dan teori revolusi politik dari theda skocpol. yang bertujuan untuk menelusuri sebab dari adanya gerakan untuk meruntuhkan Muammar Qaddafi secara faktor internal maupun eksternal, dan dampak dari kemunduran Muammar Qaddafi terhadap Libya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desakan untuk menurunkan muammar disebabkan kebijakannya yang bersifat otoriter. Elemen masyarakat berdemonstrasi untuk menurunkan Qaddafi, sehingga muammar diturunkan oleh masyarakatnya sendiri. Kemunduran Qaddafi tidak sepenuhnya membawa keberhasilan dan kemajuan Libya. Kegagalan Libya pasca-2011 mencerminkan lemahnya kesiapan institusional dalam menghadapi perubahan sistem pemerintahan. Dengan demikian, kejatuhan Qaddafi tidak hanya menandai berakhirnya rezim otoriter, tetapi juga membuka babak baru krisis struktural yang berkepanjangan di Libya.</p>Nisa' Nadzrotun NafidahAli Muhdi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052173180Fungsi Sosial dan Nilai Keislaman dalam Tradisi Nyekar Urut di Desa Peganden Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3885
<p>Penelitian ini membahas tentang tradisi nyekar yang dilakukan secara berurutan ke lima makam dan Sumur Gong yang merupakan salah satu ritual pra-pernikahan yang masih dilestarikan di Desa Peganden, Kecamatan Manyar, Kabupaten Manyar, Kabupaten Gresik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul tradisi <em>nyekar urut</em>, kemudian mendeskripsikan tata pelaksanaan dan tujuan dari tradisi tersebut, serta menganalisis fungsi sosial dan nilai keislaman yang terkandung didalamnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif-historis, melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui wawancara dengan tokoh masyarakat, observasi langsung di situs makam, serta penelusuran dokumen dan sumber tertulis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi <em>nyekar urut</em> berakar dari perpaduan antara ajaran islam tentang ziarah kubur dengan tradisi lokal penghormatan terhadap leluhur yang berkaitan dengan cerita pembentukan desa. Pelaksanaannya dilakukan dengan menyiapkan bunga tabur, telur, dan tumpeng kecil – yang hanya diambil sengenggam untuk setiap situs – beralaskan daun pisang yang diletakkan diatas makam secara berurutan. Urutan ziarah dipercaya membawa kelancaran pada waktu acara pernikahan berlangsung. Secara sosial, tradisi ini berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai-nilai adat dan penghormatan terhadap leluhur, menjaga hubungan antar generasi, memperkuat kedudukan tokoh adat seperti sesepuh desa sebagai penjaga tradisi dan menjadi pengingat moral dan sosial bahwa tradisi ini dipercaya dapat menjaga kelancaran acara pernikahan. Sementara dari sisi keagamaan, tradisi ini mengandung nilai-nilai keislaman seperti doa untuk leluhur, <em>ta’dzim </em>(penghormatan terhadap pendahulu), kesadaran akan kematian, serta keimanan kepada hari akhir, yang memperlihatkan bentuk <em>living Islam, </em>yaitu perwujudan ajaran Islam yang hidup, beradaptasi, dan terinternalisasi dalam budaya lokal masyarakat Desa Peganden.</p>Salma Ria AngelinaWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052181190Pemikiran Ahmad Hasan dan Soekarno tentang Islam dan Negara: Kritik dalam Konteks Keindonesiaan Modern
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4044
<p>Hubungan antara Islam dan negara merupakan isu sentral dalam sejarah intelektual Indonesia. Artikel ini membandingkan dan menganalisis pemikiran Ahmad Hasan dan Soekarno mengenai relasi antara agama dan kenegaraan dalam kerangka pembentukan identitas keindonesiaan modern. Ahmad Hasan direpresentasikan sebagai tokoh yang menekankan kepatuhan pada teks syariat sebagai dasar normatif kehidupan politik, sedangkan Soekarno ditampilkan sebagai perumus nasionalisme yang merumuskan Pancasila sebagai wadah pluralitas dan kohesi kebangsaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-komparatif dan analisis kritis-normatif, dengan memanfaatkan kerangka teoretis Post-Islamism (Asef Bayat) dan Public Religion (José Casanova) untuk membaca relevansi gagasan kedua tokoh dalam konteks modernitas, demokrasi, dan pluralisme. Temuan menunjukkan bahwa pemikiran Ahmad Hasan dan Soekarno memberikan kontribusi penting—baik sebagai sumber normatif maupun ideologis—yang saling melengkapi dan kadang bertemu pada ketegangan konseptual. Artikel ini menempatkan perbedaan dan persilangan gagasan tersebut sebagai bahan refleksi produktif, dan mengakhiri diskusi dengan pelajaran normatif mengenai keterbatasan manusiawi dalam berpikir serta pentingnya belajar dari perbedaan untuk membangun paradigma keindonesiaan yang lebih inklusif dan adaptif.</p>Sholahul Robbani Hidayat
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052191200Kiprah dan Perjuangan Khalid bin Walid dalam Penaklukan Negeri Persia dan Romawi
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4045
<p>Khalid bin Walid merupakan salah satu panglima perang terbesar dalam sejarah Islam yang dikenal karena strategi militernya yang brilian dan keberaniannya di medan tempur, dengan memanfaatkan pasukan yang ada pada saat itu, ia merebut kota dan wilayah yang menjadi kunci untuk menaklukkan kedua Negeri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kiprah dan perjuangan Khalid bin Walid dalam ekspansi militer Islam terhadap dua kekuatan besar dunia saat itu, yaitu Kekaisaran Persia dan Romawi Timur (Bizantium). Melalui pendekatan historis dan deskriptif-analitis, penelitian ini menelusuri berbagai pertempuran besar yang dipimpinnya, seperti Perang Yarmuk dan penaklukan wilayah Irak, serta dampaknya terhadap perluasan wilayah dan pengaruh kekhalifahan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan Khalid bin Walid bukan hanya disebabkan oleh keunggulan taktik perang, tetapi juga oleh keteguhan iman, kepemimpinan visioner, dan kemampuannya membangkitkan semangat juang pasukannya. Kiprah Khalid bin Walid tidak hanya mengubah peta kekuasaan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi Muslim dalam memahami peran strategis kepemimpinan dan jihad fi sabilillah dalam sejarah Islam.</p>Muhammad Fanni AidillahImam Ghazali Said
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052201210Nilai-Nilai Islam pada Tari Seblang Masyarakat Desa Olehsari Banyuwangi
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3935
<p>Penelitian ini menelaah nilai-nilai Islam yang terinternalisasi dalam tradisi Tari Seblang di Desa Olehsari, Banyuwangi. Permasalahan utama bagaimana nilai-nilai ajaran Islam diwujudkan dan dipertahankan dalam pelaksanaan dan simbolisme Tari Seblang Olehsari, serta menganalisis bentuk aktualisasi, fungsi, dan makna nilai-nilai Islam, khususnya yang berkaitan dengan ketuhanan, moralitas, dan sosial, yang terkandung dalam setiap aspek ritual dan gerak tari. Penelitian dengan pendekatan studi pustaka, dengan memanfaatkan jurnal dan juga website, perbandingan dengan karya sejarawan lain, dan dokumentasi. Dengan ini ditemukan bahwa ritual Seblang, meskipun berakar pada tradisi pra-Islam, kini sarat dengan akulturasi nilai-nilai Islam. Nilai-nilai tersebut tampak pada: Aspek Ketuhanan (tauhid), seperti doa-doa dan pembacaan <em>salawat</em> sebelum dan saat pertunjukan; Aspek Moralitas (akhlak), tercermin dalam kesucian penari (penyaji) dan niat tolak bala; dan Aspek Sosial (muamalah), berupa semangat gotong royong dan <em>silaturahmi</em> masyarakat. Tari Seblang memiliki fungsi sebagai media dakwah Islam kultural dan pelestarian identitas lokal yang selaras dengan ajaran Islam.</p>Bima Putra ArifiandriAbd A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052211219Kontinuitas dan Perubahan dalam Tradisi Rebo Wekasan: Studi Kasus Masyarakat Suci Gresik
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4271
<p>Penelitian ini membahas bagaimana tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci terus bertahan sekaligus mengalami perubahan. Fokus kajian meliputi asal usul dan perkembangan awal tradisi, prosesi serta dinamika perubahannya, dan bagaimana para tokoh agama memandang praktik ini. Tujuan penelitian adalah melihat kesinambungan serta pergeseran nilai spiritual, sosial, dan budaya yang hidup dalam tradisi tersebut. Pendekatan yang digunakan ialah kualitatif etnografi dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini bermula dari proses islamisasi dan rasa syukur masyarakat agraris atas penemuan sumber mata air, yang kemudian diwujudkan dalam ritual pada Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat dan tetap dipraktikkan meski Desa Suci berubah dari lingkungan agraris menuju kawasan yang lebih modern dan industri. Sejumlah bentuk kegiatan memang menyesuaikan zaman, tetapi inti prosesi seperti doa bersama, tahlil, sholawat, dan kirab tumpeng tidak ditinggalkan. Sementara itu, perbedaan pandangan antara NU dan Muhammadiyah memperlihatkan adanya variasi cara memaknai tradisi, namun keduanya sama-sama menempatkan Rebo Wekasan sebagai warisan budaya yang boleh dijalankan selama tetap berpijak pada nilai tauhid. Hasil ini menunjukkan bahwa tradisi Rebo Wekasan bertahan karena mampu menyesuaikan diri tanpa melepaskan makna dasarnya bagi masyarakat.</p>Defiyan Dwi Nur LaeliAhmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052220233Perkembangan Arsitektur Masjid Jami’ Menganti sebagai Cermin Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4078
<p>Perkembangan arsitektur Masjid Jami’ Menganti, Gresik, sebagai wujud akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal Jawa merupakan salah satu bangunan bersejarah yang mencerminkan proses peradaban Islam di wilayah pesisir Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap unsur-unsur arsitektur yang mencerminkan nilai peradaban Islam serta menjelaskan pengaruh budaya Jawa dalam struktur dan fungsi masjid. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan sejarah dan antropologi budaya, melalui observasi langsung, dokumentasi visual, serta wawancara dengan pengurus masjid dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Jami’ Menganti memiliki ciri khas atap tumpang tiga yang terinspirasi dari konsep meru Jawa, sekaligus mempertahankan orientasi kiblat dan fungsi sosial Islam. Elemen-elemen seperti ukiran kayu, tata ruang serambi, dan bentuk menara memperlihatkan perpaduan harmonis antara estetika lokal dan simbol keislaman universal.</p> <p>Kata kunci: akulturasi, arsitektur Islam, budaya Jawa, masjid tradisional</p> <p> </p>M. Ilham Rizza
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052234241Status Wanita dalam Islam Menurut Yusuf Al-Qardhawi
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4052
<p>Penelitian ini mengkaji status wanita dalam Islam menurut pemikiran Yusuf Al-Qardhawi, seorang ulama terkemuka dengan pendekatan moderat dan progresif. Masalah penelitian difokuskan pada pemahaman kedudukan, hak, dan peran perempuan dalam Islam sebagaimana dipaparkan Al-Qardhawi, serta respon masyarakat terhadap pemikirannya dalam konteks sosial dan budaya modern. Metode yang diambil adalah deskriptif kualitatif dengan studi pustaka sebagai cara pengumpulan data utama, menganalisis buku-buku Al-Qardhawi seperti buku "The Status of Women in Islam". Hasil penelitian menunjukkan Al-Qardhawi menegaskan kesetaraan gender berdasarkan kualitas iman dan ketakwaan, menolak diskriminasi gender, dan membuka ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan, ekonomi, dan politik sesuai syariah. Ia tetap mengakui kodrat biologis perempuan khususnya dalam peran domestik, tetapi tidak mengekang kontribusi mereka di ranah publik. Reaksi masyarakat beragam kalangan intelektual menerima sebagai solusi moderat, dengan feminis Islam dan konservatif mengkritik pembatasan dan liberalisme tertentu. Pemikiran Al-Qardhawi berkontribusi signifikan terhadap pengembangan Islam yang inklusif dan responsif terhadap tantangan zaman.</p>Rahayu SilviyahAli Muhdi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052242253Jaringan Intelektual Islam dan Dinamika Pembaharuan Pemikiran di Nusantara pada Abad Modern
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4041
<p>Pada abad modern, terbentuk sebuah jaringan intelektual yang kuat antara ulama dari Kepulauan Nusantara (wilayah Melayu-Indonesia) dan pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah, khususnya Haramain (Makkah dan Madinah). Jaringan ini memainkan peran penting dalam transmisi ilmu keislaman, pembaruan pemikiran, dan pembentukan identitas keagamaan di kawasan Nusantara. interaksi intelektual antara ulama Nusantara dan Timur Tengah memengaruhi arah pembaruan Islam dalam konteks sosial, politik, dan budaya lokal. Hubungan antara transmisi ilmu keislaman, mobilitas ulama, dan penerimaan ide-ide modernisme Islam dari tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rashid Ridha memberikan kontribusi dalam pembaharuan pemikiran yang diadaptasi oleh tokoh-tokoh di Nusantara seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Abdul Karim Amrullah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan ulama menjadi wahana penting dalam proses transformasi intelektual, pendidikan, dan sosial di dunia Islam Nusantara. Selain itu, pembaruan yang terjadi tidak bersifat imitasi, melainkan hasil dialektika kreatif antara tradisi keilmuan Islam klasik dan modernitas. Kajian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman historis mengenai konstruksi identitas keislaman Indonesia yang moderat, rasional, dan kontekstual.</p>Nanang Indragiri
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052254265Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah pada Masa Kepemimpinan KH. Moh. Nasrullah Baqir
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4047
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses perkembangan Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah pada masa kepemimpinan KH. Moh. Nasrullah Baqir. Sebagai salah satu pesantren besar di Jawa Timur, Tarbiyatut Tholabah memiliki sejarah panjang yang menunjukkan dinamika transformasi pendidikan Islam, baik dalam bidang tradisi keilmuan klasik maupun pembaruan kelembagaan. Secara khusus, penelitian ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan utama: (1) bagaimana bentuk kepemimpinan KH. Moh. Nasrullah Baqir dalam mengembangkan pesantren, (2) bagaimana strategi beliau dalam memelihara identitas pesantren salafiyah sambil melakukan modernisasi pendidikan dan kelembagaan, serta (3) bagaimana dampak kepemimpinannya terhadap peran sosial dan eksistensi pesantren di tengah masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan perspektif historis. Data diperoleh melalui studi dokumentasi, wawancara dengan keluarga besar pesantren dan santri senior, serta observasi langsung di lingkungan pesantren. Analisis data dilakukan dengan menerapkan tahapan metodologi sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan KH. Moh. Nasrullah Baqir berperan penting dalam memperluas jaringan pendidikan dan memperkuat eksistensi pesantren di tengah masyarakat. Pengembangan yang dilakukan mencakup pembukaan lembaga pendidikan formal, penguatan manajemen kelembagaan, serta pelibatan pesantren dalam aktivitas sosial-ekonomi masyarakat. Dengan demikian, masa kepemimpinan beliau menjadi fase penting dalam sejarah perkembangan Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah.</p>Ahmad Fushilat Sajiwo
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052266273Analisis Hubungan Spiritual Guru-Murid Syekh Wasil dengan Prabu Jayabaya: Tinjauan Terhadap Isi Teks Kitab Musarar
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3979
<p>Perpaduan antara tradisi spiritual lokal dan ajaran Islam menghasilkan narasi yang kaya makna filosofis dan historis. Salah satu hubungan yang menarik dan sarat dimensi spiritual adalah hubungan antara Syekh Wasil (Pangeran Makkah) dan Prabu Jayabaya. Dalam teks Musarar yang dibahas dalam buku Hubungan Prabu Sri Aji Jayabaya Dengan Syekh Wasil Pangeran Makkah, Prabu Jayabaya digambarkan berguru kepada Maulana Ali Syamsul Zein yang diyakini sebagai Syekh Wasil, membahas Kitab Musarar yang menjadi dasar munculnya ramalan-ramalan Jayabaya dalam sinkretisme Jawa-Islam. Penelitian ini meliputi: (1) penggambaran figur Syekh Wasil dalam teks Musarar; (2) bentuk hubungan guru–murid antara Syekh Wasil dan Prabu Jayabaya; dan (3) implikasi ajarannya terhadap karya ramalan Prabu Jayabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka yang berfokus pada pengumpulan, pembacaan, pencatatan, dan pengolahan data yang bersumber dari buku utama dan literatur sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa figur Syekh Wasil adalah konstruksi literer yang mempertemukan warisan Hindu-Buddha dengan Islam dalam teks Musarar. Hubungan spiritual ini berfungsi sebagai legitimasi kultural bagi proses Islamisasi di Jawa, khususnya Kediri, melalui otoritas simbolik tokoh masa lalu. Oleh karena itu, Musarar tidak hanya dipandang sebagai teks ramalan, tetapi juga sebagai bukti historis dan simbolik perjumpaan peradaban Hindu-Buddha dan Islam di Kediri.</p> <p> </p>Inna Lailata HidayahMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052274281Tradisi Hari Raya Pasung di Desa Drancang Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3926
<p>Tradisi Hari Raya Pasung di Desa Drancang, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, merupakan salah satu warisan budaya lokal yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami makna, sejarah, dan nilai sosial budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap asal-usul dan makna simbolik tradisi Pasung serta peranannya dalam memperkuat kebersamaan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis, melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan warga, serta dokumentasi terkait pelaksanaan tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Hari Raya Pasung tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat dan keagamaan, tetapi juga mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur yang memperkuat solidaritas sosial. Selain itu, tradisi ini menjadi sarana pelestarian identitas budaya dan media pendidikan nilai-nilai lokal bagi generasi muda. Kesimpulannya, tradisi Pasung memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial dan kelestarian budaya masyarakat Desa Drancang.</p>Lukna Inna Zahrizat
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052282289Jaringan Pos Baybars: Birokrasi Komunikasi dan Infrastruktur Informasi di Dunia Islam Abad ke-13
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3962
<p>Penelitian ini membahas sistem jaringan pos (al-barīd) yang didirikan oleh Sultan al-Ẓāhir Baybars sebagaimana dicatat oleh al-Maqrīzī dalam al-Khiṭaṭ al-Maqrīziyyah. Masalah utama penelitian ini adalah bagaimana sistem pos tersebut menggambarkan bentuk birokrasi komunikasi dan pengelolaan informasi pada masa pemerintahan Mamluk abad ke-13. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan deskripsi al-Maqrīzī tentang jaringan pos, fungsinya dalam administrasi negara, dan maknanya bagi perkembangan peradaban Islam. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan analisis isi teks sejarah, yaitu menelaah langsung bagian al-Khiṭaṭ yang membahas pendirian pos Baybars dan membandingkannya dengan konteks sejarah Mamluk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem al-barīd berfungsi sebagai sarana komunikasi cepat antara pusat dan daerah, memperkuat kontrol politik, serta menandai kemajuan organisasi birokrasi Islam. Al-Maqrīzī menampilkan jaringan pos ini sebagai simbol keteraturan administrasi dan efisiensi pemerintahan dalam peradaban Islam klasik.</p>Ahmad Bahrul Ma’arif
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052290299Bissu Bugis dan Islamisasi Sulawesi Selatan: Negosiasi Identitas Gender dalam Sejarah Peradaban Islam Nusantara
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3887
<p>Penelitian ini membahas peran dan kedudukan Bissu dalam masyarakat Bugis pra-Islam serta dinamika yang terjadi setelah proses Islamisasi di Sulawesi Selatan. Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada pengaruh Islamisasi terhadap perubahan peran sosial-religius Bissu, bentuk negosiasi identitas gender dalam dominasi nilai Islam, serta strategi kebertahanan tradisi di tengah modernisasi dan penguatan norma keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak Islamisasi terhadap posisi sosial Bissu, menganalisis bentuk-bentuk negosiasi identitas gender yang mereka lakukan, serta menjelaskan kontribusi fenomena ini terhadap pemahaman Islam Nusantara sebagai hasil akulturasi agama dan budaya. Meski menghadapi marginalisasi, komunitas Bissu tetap bertahan melalui strategi negosiasi identitas, adaptasi simbolik, serta keterlibatan dalam bidang budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis dan studi pustaka, bertujuan mengungkap dampak Islamisasi terhadap posisi sosial Bissu, bentuk-bentuk negosiasi identitas gender yang mereka lakukan, serta kontribusinya bagi pemahaman Islam Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena Bissu memperlihatkan adanya proses akulturasi agama dan tradisi, di mana Islam tidak sepenuhnya menghapus budaya lokal, melainkan mengintegrasikannya sehingga lahir corak Islam yang khas, berakar pada tradisi Bugis namun tetap berlandaskan tauhid.</p>Natasha AdiratnaAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052300310Lontar Yusuf sebagai Media Dakwah di Banyuwangi Abad ke-19 hingga ke-21
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3891
<p>Penelitian ini mengkaji tradisi Mocoan Lontar Yusuf sebagai media dakwah Islam yang hidup di tengah masyarakat Osing Banyuwangi. Permasalahan utama yang diangkat meliputi bagaimana tradisi pembacaan Lontar Yusuf dilaksanakan, pesan-pesan dakwah Islam yang terkandung di dalamnya, serta perannya sebagai sarana dakwah berbasis budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap keterkaitan antara teks keagamaan, praktik budaya, dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial masyarakat Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan antropologi budaya Koentjaraningrat, yang menelaah tiga wujud kebudayaan: ide, tindakan, dan artefak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mocoan Lontar Yusuf tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelestarian sastra keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen dakwah yang halus dan estetis. Melalui kisah Nabi Yusuf yang dilantunkan dalam tembang macapat, nilai-nilai seperti kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman diinternalisasi secara kultural. Dengan demikian, Lontar Yusuf berperan sebagai media dakwah yang adaptif dan humanis, menghadirkan Islam yang damai, membumi, serta selaras dengan kearifan lokal masyarakat Banyuwangi.</p>Ikrima Arfi DaniaAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052311319Sejarah Khadijah dalam Mendukung Dakwah Rasulullah
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4009
<p>Penelitian ini membahas peran sentral Khadijah sebagai tokoh perempuan pertama yang mendukung dakwah Rasulullah pada masa awal Islam. Kajian ini menyoroti kontribusi Khadijah dari aspek spiritual, sosial, moral, dan ekonomi yang memiliki dampak signifikan terhadap keberlangsungan misi kenabian. Tujuan utama penelitian adalah memahami bagaimana dukungan Khadijah membentuk fondasi awal dakwah Islam serta relevansinya terhadap peran perempuan dalam sejarah keagamaan. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui telaah sumber primer seperti <em>Sirah Nabawiyah</em>, <em>Al-Bidayah wa al-Nihayah</em>, dan <em>Tarikh al-Thabari</em>, serta literatur sekunder modern yang mengkaji peran perempuan dalam Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Khadijah berperan sebagai penopang utama dakwah melalui dukungan finansial, moral, dan sosial. Seluruh hartanya digunakan untuk menopang perjuangan Rasulullah di tengah tekanan dan boikot kaum Quraisy, sementara keimanan dan ketabahannya menjadi sumber kekuatan spiritual bagi Nabi. Selain itu, status sosial Khadijah memberikan legitimasi dan perlindungan terhadap penyebaran Islam pada fase awal. Nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, serta pengorbanan Khadijah menjadi teladan universal tentang kesetiaan dan keteguhan iman, sekaligus menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai pendorong utama dalam perubahan sosial dan dakwah keagamaan.</p>Ardana Jingga PitalokaAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052320328Representasi Sejarah Islam dalam Video Game: Analisis Assassin’s Creed Mirage
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3977
<p>Penelitian ini mengkaji representasi sejarah Islam dalam video game <em>Assassin’s Creed Mirage </em>yang berlatar di Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah abad ke-9. Fokus utama penelitian adalah bagaimana game tersebut menggambarkan kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat Islam, serta tingkat keakuratan hsitorisnya dibandingkan dengan sumber sejarah yang otentik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk representasi sejarah, dan menilai potensi game sebagai media edukasi nonformal. Metode yang digunakan adalah metode historiografi. Langkah-langkah ini digunakan untuk menelusuri data sejarah yang relevan dengan konteks masa Abbasiyah, lalu membandingkannya dengan elemen naratif dan visual dalam <em>Assassin’s Creed Mirage</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa game ini menyajikan representasi yang cukup akurat mengenai kehidupan sosial dan budaya Baghdad abad ke-9, meskipun terdapat unsur fiksi untuk memperkuat alur cerita. Secara keseluruhan, <em>Assassin’s Creed Mirage</em> tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan berpotensi menjadi sarana pembelajaran sejarah Islam yang interaktif bagi generasi modern.</p>Muhammad Yuda ArdhiansyahAli Muhdi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052329342Menelisik Jejak Kupatan Kampung Pekauman Gresik: Sejarah serta Eksistensinya pada Masa Kontemporer
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3969
<p>Tradisi kupatan di Kampung Pekauman, Gresik, merupakan tradisi lebaran kupatan yang unik dan berbeda dengan lebaran pada umumnya. Perbedaanya, masyarakat Pekauman tidak melakukan silaturahim keliling kampung setelah sholat Idul fitri, melainkan masyarakat Pekauman melanjutkan Puasa Syawal. Puasa Syawal yang dimaksud ialah puasa sunnah enam hari pasca hari raya Idul fitri. Penelitian ini bertujuan menelusuri jejak historis tradisi kupatan terbentuk di Pekauman, lalu proses pelaksanaan tradisi Kupatan Pekauman, serta bagaimana eksistensi keberadaannya dalam kehidupan masyarakat modern. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengandalkan wawancara mendalam dengan tetua kampung pekauman, serta beberapa sumber pendukung seperti dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tradisi Kupatan Pekauman milik tokoh masyarakat setempat, dan beberapa sumber berita yang tertera di internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah melaksanakan puasa sunnah di Bulan Syawal, masyarakat Pekauman barulah menggelar tradisi tahunan yang dikenal sebagai Kupatan Pekauman yakni sebuah bentuk perayaan khas sebagai pemuncak lebaran Idul fitri. Tradisi kupatan Pekauman ini masih terjaga dan lestari hingga kini, dengan penambahan terobosan baru dari warga setempat yakni istigasah sekaligus kirim doa bersama di langgar terdekat, hal tersebut dimaksudkan untuk meluaskan jangkauan interaksi dan keterbukaan masyarakat Pekauman bagi orang-orang yang ingin mengenal tradisi Kupatan Pekauman.</p>Abdul Halim HasanMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052343349Tradisi Barikan Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Jl. Demak Jaya II, Kecamatan Bubutan, Surabaya
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3703
<p>Tradisi Barikan merupakan tradisi yang sangat unik yaitu di daerah Surabaya yang dilakukan langsung oleh masyarakat setempat. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan cara masyarakat bersama-sama membawa makanan ke Masjid kemudian dimakan bersama-sama sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan atas lahirnya Nabi Muhammad Saw. Kegiatan itu juga meliputi tabuhan rebana untuk melantunkan sholawat dan juga penarikkan uang dan alat-alat rumah tangga untuk berbagi kepada sesama masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengidentifikasi makna dan simbol dari tradisi barikan dalam konteks keagamaan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi barikan memiliki makna simbol yang mendalam bagi masyarakat, yaitu sebagai bentuk perayaan keagamaan tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan tradisi dan membangun kesadaran akan nilai-nilai Islam. penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman makna dan simbol tentang keragaman tradisi dan budaya keagamaan di daerah Surabaya.</p>Alifa Farahdina Asy’ari PutriDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052350360Peran Norani Othman terhadap Penguatan Feminisme Islam di Malaysia Melalui Prinsip Maqasid al-Shariah
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3791
<p>Penelitian ini menelaah pemikiran dan kontribusi Norani Othman pada gerakan feminisme Islam di Malaysia. Permasalahan utama penelitian berfokus pada bagaimana gagasan Othman menafsirkan ulang teks-teks agama untuk menegakkan keadilan gender, serta dampaknya pada advokasi kebijakan dan gerakan sosial. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan latar belakang intelektual Othman, menganalisis gagasan feminisme Islam yang ia kembangkan, dan menilai peran konkret dalam gerakan perempuan Muslim. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, memanfaatkan karya-karya Othman sebagai sumber primer, disertai artikel akademik, prosiding, dan laporan organisasi sebagai sumber sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa Othman menegaskan kesetaraan gender sebagai bagian inheren ajaran Islam melalui prinsip <em>Maqasid al Shari’ah</em>, khususnya `adl (keadilan) dan maslahah (kebaikan). Melalui Sisters in Islam (SIS) dan jaringan Musawah, ia berhasil memadukan penelitian akademik, advokasi hukum, dan diplomasi transnasional untuk menantang tafsir patriarkal sekaligus membuktikan bahwa reformasi hukum keluarga Islam dapat dilakukan tanpa meninggalkan otoritas Al-Qur’an. Temuan ini menegaskan bahwa feminisme Islam yang ditawarkan Othman relevan bagi negara mayoritas Muslim lain, termasuk Indonesia, dalam upaya menegakkan keadilan gender berbasis nilai-nilai agama.</p>Firdausi NuzulaAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052361367Perang Khandaq (627 M): Studi Strategi Parit sebagai Inovasi Pertahanan dan Dampaknya terhadap Konsolidasi Umat Islam
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3786
<p>Peristiwa perang Khandaq menjadikan umat Islam memperoleh kedudukan yang lebih kuat dan strategis dalam pergerakan politik suku Arab. Strategi yang digunakan dalam perang Khandaq dan dampak yang dihasilkan merupakan keistimewaan tersendiri untuk umat Islam saat itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) alasan mengapa strategi parit sebagai inovasi pertahanan dapat menentukan kemenangan Kaum Muslimin saat perang Khandaq, (2) dampak yang dihasilkan dari kemenangan perang Khandaq untuk konsolidasi Umat Islam. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Sumber data yang digunakan adalah sumber primer dan sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini adalah Al-Qur’an. Sedangkan sumber sekundernya adalah kitab-kitab terjemah, artikel jurnal, dan e-book yang relevan dengan pokok bahasan penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik penelitian kepustakaan. Penelitian ini menerapkan analisis historis, deskriptif dan isi. Tahapan prosedur penelitian meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) strategi parit yang digunakan oleh kaum Muslimin adalah hasil inovasi dari musyawarah Rasulullah dan para sahabat terhadap situasi perang yang dihadapi. (2) Dampak perang Khandaq untuk konsolidasi umat Islam setelah itu adalah meningkatkan reputasi kekuatan pasukan umat Islam, mengokohkan posisi Rasulullah sebagai pemimpin yang mengayomi umat Islam dan berkurangnya ancaman dari suku Quraisy dan suku-suku lainnya.</p>Khumaidhatunnisfiyah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052368373Kembang Mulud: Tradisi Masyarakat Osing dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3882
<p>Tradisi Kembang Mulud atau Endog-endogan merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya dan religius masyarakat Osing di Banyuwangi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini telah menjadi agenda rutin tahunan pada bulan Maulid atau Rabiul Awal yang dilakukan oleh masyarakat banyuwangi khususnya masyarakat Osing yang bertujuan untuk mempererat kerukunan antar warga sekaligus memperingati bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Fokus penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah, prosesi dan makna simbolik pada tradisi Kembang Mulud yang dilaksanakan oleh masyarakat Osing di Banyuwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memhami makna yang terkandung dalam tradisi Kembang Mulud yang merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Osing di Banyuwangi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Kembang Mulud berawal dari upaya dakwah islam yang dikemas dalam bentuk budaya lokal. Proses pelaksanaanya meliputi pembuatan endhog hias, arak-arakan, pembacaan shalawat, dan pembagian telur kepada masyarakat. Secara simbolik, telur melambangkan kelahiran dan iman, islam, serta ihsan. Tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, namun juga mempererat persaudaraan antar masyarakat Osing di Banyuwangi.</p>Nuril Abshor HafizhDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052374381Resolusi Jihad NU dalam Film Sang Kiai: Analisis Historis dan Semiotika
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3772
<p>Resolusi Jihad yang diumumkan oleh Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terutama dalam menggerakkan masyarakat Muslim untuk membela kemerdekaan. Peristiwa ini diangkat dalam film Sang Kiai (2013) yang tidak hanya melakukan rekonstruksi peristiwa sejarah, tetapi juga menampilkan simbol-simbol dan tanda-tanda yang kaya akan makna ideologis. Melalui karya sinema ini, nilai-nilai perjuangan, semangat jihad, serta kontribusi pemimpin agama dalam membentuk kesadaran kolektif bangsa dipresentasikan kepada penonton. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis representasi historis Resolusi Jihad dalam film Sang Kiai, (2) mengkaji makna semiotik dari tanda, simbol, dan narasi yang muncul dalam film, serta (3) menilai relevansi penggambaran Resolusi Jihad dengan konteks historiografi perjuangan nasional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis historis dan semiotika Ferdinand de Saussure. Sumber data utama berupa film Sang Kiai, dilengkapi dengan literatur sejarah, arsip, dan penelitian terdahulu mengenai Resolusi Jihad NU. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi peristiwa historis yang direpresentasikan film serta menafsirkan makna tanda linguistik maupun visual yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Sang Kiai berhasil menampilkan Resolusi Jihad sebagai momentum penting perjuangan bangsa melalui narasi historis yang relatif akurat, meskipun terdapat simplifikasi alur peristiwa untuk kepentingan dramatik. Simbol jihad, bendera, dan perlawanan rakyat merepresentasikan perjuangan dan kesatuan umat Islam, menjadikan film ini sarana dakwah dan edukasi tentang peran ulama dalam kemerdekaan.</p>Yumiatun SolikhahDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052382391Strategi Dakwah Islam Awal di Nusantara Perspektif Ahmad Mansur Suryanegara
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3767
<p>Penelitian ini menganalisis strategi dakwah Islam awal di Nusantara berdasarkan perspektif Ahmad Mansur Suryanegara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pandangan Suryanegara mengenai awal masuknya Islam ke Nusantara, mengkaji strategi dakwah yang digunakan dalam proses Islamisasi, dan menyebarkan relevansi strategi dakwah tersebut terhadap masyarakat pada masanya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif, fokus pada analisis konten dari karya-karya Ahmad Mansur Suryanegara, khususnya buku Api Sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahmad Mansur Suryanegara berpendapat Islam masuk ke Nusantara jauh lebih awal dari teori-teori sebelumnya, yaitu sejak abad ke-7 Masehi, dibawa langsung oleh para pedagang dan ulama dari Arab. Strategi dakwah yang dominan adalah dakwah kultural yang adaptif dan persuasif, melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, kesenian (seperti wayang), dan tasawuf. Pendekatan ini memungkinkan Islam diterima secara damai dan bertahap, tanpa konfrontasi, serta mampu berasimilasi dengan budaya lokal yang sudah ada. Relevansi strategi dakwah ini sangat tinggi karena mampu menciptakan masyarakat yang harmonis dan menerima Islam sebagai bagian integral dari identitas mereka, menunjukkan bahwa pendekatan yang mengedepankan kearifan lokal dan dialog budaya adalah kunci keberhasilan Islamisasi di Nusantara.</p>Maya Maisaroh
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052392400Sejarah Suku Bawean: Perpaduan Suku Madura, Jawa, Melayu, dan Bugis dalam Perspektif Sosial Budaya
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3930
<p>Abstrak: Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki keragaman Suku, budaya, bahasa, dan tradisi yang luar biasa, Pulau Bawean merupakan salah satu pulau kecil di Laut Jawa yang memiliki sejarah sosial-budaya yang sangat menarik. Dan menjadi tempat Strategis dalam Pelayaran dan perdagangan di laut jawa. Penelitian ini membahas sejarah Suku Bawean sebagai hasil perpaduan Suku Madura, Jawa, Melayu, dan Bugis dalam perspektif sosial budaya. Rumusan masalah penelitian ini adalah: bagaimana Hasil nilai-nilai sosial budaya dari perpaduan suku tersebut? Dengan menggunakan metode Kualitatif deskriptif dengan pendekatan historis-sosiologis melalui studi pustaka dan analisis sosial budaya, penelitian ini menemukan bahwa interaksi multietnis di Bawean melahirkan nilai-nilai sosial budaya berupa Tradisi Merantau, Tradisi Petik Laut, toleransi, solidaritas, serta penghormatan terhadap adat dan agama. mereka menggabungkan nilai-nilai dari keempat suku itu menjadi satu kesatuan yang rukun dan harmonis. Dari orang Madura, mereka belajar kerja keras, keberanian, dan sikap religius. Dari orang Jawa, mereka meneladani kesopanan, rasa damai, dan semangat gotong royong. Dari orang Melayu, mereka mengambil sifat ramah, terbuka, dan pandai berdagang. Sementara dari orang Bugis, mereka mewarisi jiwa perantau, keberanian menghadapi hidup, dan rasa kebersamaan yang kuat. Ajaran Islam menjadi landasan utama dalam kehidupan sosial dan adat Suku Bawean.</p> <p>Kata Kunci: Sejarah, Suku Bawean, Agama, identitas sosial Budaya, Perpaduan</p> <p> </p> <p> </p> <p> </p>Moh Rizal Hidayatullah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052401409Sejarah Konflik Politik di Wilayah Kekuasaan Turki Utsmani pada Masa Sultan Sulaiman Al-Qonuni Tahun 1520–1566 M
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4289
<p>Penelitian ini mengkaji terkait konflik yang dihadapi oleh Sultan Sulaiman Al-Qonuni selaku pemimpin Turki Utsmani. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui peristiwa konflik yang terjadi, serta bagaimana upaya yang dilakukan sultan untuk meredamnya. Batasan penelitian mencakup situasi geopolitik di Timur Tengah ketika Kesultanan Turki Utsmani menduduki dominasi kekuasaan tertinggi berasaskan hukum Islam di bawah kepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qonuni. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini lebih mengedepankan kepada metode interpretasi terhadap teks. Data yang digunakan dalam acuan penelitian ini berasal dari berbagai sumber sekunder yaitu hasil-hasil penelitian yang telah terpublikasi seperti dalam bentuk buku. Pendekatan sejarah politik dan didukung dengan teori konflik oleh Karl Marx menjadi acuan penulisan penelitian ini. Analisis yang dihasilkan menunjukkan bahwa selama rentang masa Sultan Sulaiman Al-Qonuni berkuasa telah terjadi berbagai peristiwa pemberontakan yang mengancam internal kekuasaan negara, seperti pembangkangan Jan Bardi Al-Ghazali di Syam, pemberontakan Syi’ah di bawah komando Baba Dzunnun dan Qalandar Jalabi, Sultan Tahmasab Syafawi, serta Katolik Portugis. Konsolidasi yang terjadi mengakibatkan ketegangan politik di dalam internal kerajaan meskipun semua dapat diredam oleh sang sultan.</p>Abid Alfat-h AhmadWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052410425Pondok Pesantren Al-Fatimiyah Banjar Anyar Paciran Lamongan: Jejak Sejarah dan Implikasi Sosialnya bagi Masyarakat Sekitar (1991-2025)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3768
<p>Pondok pesantren adalah salah satu bentuk pendidikan Islam yang klasik dan memiliki peranan krusial dalam membentuk karakter keagamaan, sosial, serta budaya masyarakat. Di Kabupaten Lamongan, khususnya di Desa Banjar Anyar, berdirinya Pondok Pesantren Al-Fatimiyah pada tahun 1991 menjadi momen penting dalam perkembangan pendidikan Islam setempat. Keberadaan pesantren ini lebih dari sekadar institusi pendidikan, ia juga berkontribusi dalam menciptakan tradisi keilmuan, moral, dan pengabdian sosial yang berkelanjutan hingga tahun 2025. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Fatimiyah Banjar Anyar, Paciran, Lamongan, menggali perkembangan pesantren dari masa ke masa, sekaligus menganalisis kontribusi pesantren terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis. Informasi diperoleh melalui penelitian dokumentasi dan wawancara mendalam dengan pengasuh, santri, alumni, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al-Fatimiyah didirikan berdasarkan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Islam yang komprehensif dan berlandaskan tradisi pesantren. Seiring perkembangan, pesantren ini mengalami kemajuan yang signifikan dalam hal organisasi, fasilitas, serta metode pendidikan. Kontribusi pesantren terhadap masyarakat Banjar Anyar dan sekitarnya terlihat dalam penguatan pendidikan agama, pembinaan moral bagi generasi muda, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Dengan demikian, eksistensi Pondok Pesantren Al-Fatimiyah lebih dari sekadar pusat pendidikan Islam, melainkan juga sebagai pendorong pembangunan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.</p> <p>Kata Kunci: Pondok Pesantren Al-Fatimiyah, Sejarah, Kontribusi Sosial.</p> <p> </p>Nur Rahayu Wulan Ning TiasMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052426440Akal dan Wahyu dalam Pembahasan Intelektual Islam: Studi Perbandingan Pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3861
<p><strong>Abstrak:</strong> Artikel ini membahas hubungan antara akal dan wahyu yang menjadi warisan dalam sejarah intelektual Islam dengan fokus pada perbandingan pemikiran dari Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Persoalan utama yang dikaji mencakup pada latar belakang intelektual Al-Ghazali dan Ibnu Risyd, analisis perbandingan keduanya tentang hubungan akal dan wahyu dan relevansi perbandingan pemikiran tersebut bagi pendidikan Islam modern. Artikel ini menggunakan metode penelitian studi pustaka (<em>library research</em>) yang digabungkan dengan metode sejarah, guna menelusuri latar belakang kemunculan pemikiran akal dan wahyu ini dari Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Data dikumpulkan dari sumber primer seperti <em>Tahafut al-</em>Falasifah dan <em>Tahafut al-Tahafut</em>, serta sumber sekunder yang berupa buku dan jurnal akademik yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd memiliki tujuan pengetahuan yang sama, yakni menegakkan keselarasan antara akal dan wahyu, tetapi dalam metode yang berbeda. Al-Ghazali memfokuskan pemikirannya terhadap pendekatan spiritual dan tasawuf dengan tujuan penyucian jiwa. Sedangkan Ibnu Rusyd mengedepankan pada penalaran yang didasarkan pada akal supaya mencapai pengetahuan yang pasti. Perbandingan keduanya ini menghasilkan sebuah gabungan dalam Islam, yakni akal dan wahyu bukanlah dua objek yang saling bertentangan, tetapi justru saling melengkapi dalam mencapai kebenaran. Temuan ini memiliki relevansi yang penting dalam pendidikan Islam modern, karena pentingnya perpaduan antara dimensi spiritual dan rasional dalam membentuk manusia yang berilmu dan beriman.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>Akal, Wahyu, Pemikiran</em></p>Azmil KhafidzohAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052441452Sulaiman Al-Qanuni: Pemimpin yang Bijak dan Intelektual Perumus Undang-Undang dalam Sejarah Kesultanan Turki Utsmani (1520-1566)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3736
<p>Penelitian ini mengkaji kepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni dalam sejarah Kesultanan Turki Utsmani antara tahun 1520-1566 M, dengan fokus utama pada perannya sebagai pemimpin yang bijak dan intelektual, khususnya dalam merumuskan undang-undang yang membawa kejayaan bagi kesultanan. Masa pemerintahannya yang berlangsung selama 46 tahun dianggap sebagai era keemasan kekaisaran Turki Utsmani, ditandai oleh puncak kejayaan dalam berbagai aspek politik, ekonomi dan militer. Julukan “Al-Qanuni”(sang pembuat undang-undang) melekat padanya karena reformasi hukum dan administrasi yang kuat, termasuk penyusunan kitab hukum<em> Multaqa Al-Abhur </em>dan <em>Qanun Nameh</em>. Kebijakan-kebijakan hukum ini berhasil menyelaraskan prinsip-prinsip syariat Islam dengan kebutuhan praktis pemerintahan multikular, menciptakan stabilitas dan keadilan. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan mengumpulkan data dari literatur relevan untuk menganalisis biografi, peran dalam perumusan undang-undang dan pencapian-pencapaianya. Pemahaman terhadap kepemimpinan Sulaiman Al-Qanuni tidak hanya memberikan wawasan tentang sejarah peradaban Islam, tetapi juga menawarkan pelajaran berharga mengenai tata kelola negara, pengembangan hukum, dan strategi militer yang efektif untuk konteks kepemimpinan modern.</p>Ahmad Dhiyaul Haq Al Hakim
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052453459Perkembangan Ilmu Kedokteran pada masa Dinasti Fatimiyah
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3920
<p>Penelitian ini membahas perkembangan ilmu kedokteran pada masa Dinasti Fatimiyah (909–1171 M) di Mesir. Rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian meliputi: masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah, lembaga dan pusat pembelajaran ilmu kedokteran, serta tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu kedokteran pada masa tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana institusi pendidikan kedokteran dibangun dan siapa saja tokoh penting yang memberikan kontribusi dalam bidang kedokteran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah melalui studi literatur dan dokumen, seperti catatan sejarah dan karya ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinasti Fatimiyah berhasil mendirikan rumah sakit (bimaristan) sebagai pusat pengajaran dan praktik kedokteran. Beberapa tokoh dokter dan ilmuwan memainkan peran penting dalam inovasi pengobatan, pengembangan obat, dan penulisan buku-buku medis. Temuan ini menunjukkan bahwa masa Dinasti Fatimiyah merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu kedokteran di dunia Islam</p>Dalilatul IstiqomahAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052460472Konsep Sosialisme Menurut H.O.S Tjokroaminoto
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3911
<p>Penelitian ini mengkaji pemikiran sosialisme H.O.S. Tjokroaminoto lahir dari pergulatan intelektual dan sosial pada masa kolonial yang ditandai dengan ketidakadilan ekonomi, penindasan, serta jurang sosial antara pribumi dan penguasa kolonial. Tjokroaminoto berupaya merumuskan sebuah bentuk sosialisme yang berakar pada nilai-nilai Islam, sehingga melahirkan konsep “Sosialisme Islam”. Baginya, sosialisme tidak semata-mata sebuah ideologi Barat yang menekankan pada kepemilikan bersama, melainkan sebuah sistem etis dan sosial yang selaras dengan prinsip keadilan, persaudaraan, dan kesejahteraan dalam ajaran Islam. Melalui gagasan tersebut, Tjokroaminoto menegaskan bahwa Islam sejatinya telah lebih dahulu menawarkan konsep sosialisme yang berbasis tauhid, ukhuwah, dan keadilan sosial, berbeda dengan sosialisme Barat yang cenderung materialistis dan sekuler. Pemikirannya berimplikasi besar dalam menginspirasi gerakan pergerakan nasional, meneguhkan perlawanan terhadap kolonialisme, sekaligus memperkaya wacana keislaman di Indonesia. Dengan demikian, sosialisme Islam Tjokroaminoto dapat dipahami sebagai usaha kontekstualisasi ajaran Islam dalam merespons problem ketidakadilan sosial pada zamannya.</p>Aldi AlfariziAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052473480Dakwah Sunan Prapen dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat Gresik pada Abad ke-16
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3910
<p>Artikel ini membahas dakwah Sunan Prapen di Gresik pada abad ke-16 dengan menyoroti bagaimana bentuk dakwah yang dilakukan, faktor-faktor yang membuat ajarannya diterima, serta dampak langsung yang ditimbulkan terhadap praktik keagamaan dan struktur sosial masyarakat. Rumusan masalah tersebut menjadi dasar penelitian yang bertujuan menjelaskan strategi dakwah Sunan Prapen sekaligus menilai pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Gresik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis, yakni menelaah sumber primer berupa babad, naskah lokal, dan catatan perjalanan, serta memperkuat analisis dengan literatur akademik sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sunan Prapen menekankan strategi dakwah kultural dengan memanfaatkan seni, tradisi, dan interaksi sosial yang dekat dengan masyarakat sehingga ajaran Islam dapat diterima tanpa pertentangan. Dampaknya terlihat pada semakin kuatnya praktik keagamaan Islam, lahirnya lembaga-lembaga keislaman, serta pergeseran sosial menuju nilai-nilai Islam. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa dakwah Sunan Prapen berperan penting dalam membangun fondasi Islam di Gresik sekaligus memperluas pengaruh Islam di Jawa Timur, sekaligus memberikan kontribusi akademis bagi kajian sejarah dakwah Islam di Indonesia.</p>Lintang Mayada PutriDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052481492Sejarah dan Perkembangan Gerakan Sisters in Islam (1988-2018) dalam Perspektif Feminisme Islam
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3918
<p>Penelitian ini mengkaji tentang sejarah serta dinamika gerakan Sisters in Islam (SIS) di Malaysia dari pembentukannya pada 1988 sampai 2018, dengan penekanan pada perannya dalam mempromosikan feminisme Islam dan kesetaraan gender. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap kebijakan Islamisasi negara dan perubahan hukum keluarga Islam yang dianggap merugikan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (<em>Library Resource</em>) dengan menggunakan sumber dari dokumen organisasi, peraturan hukum, fatwa, laporan dari lembaga internasional, dan arsip media online, serta sumber sekunder yang meliputi buku dan artikel ilmiah. Bentuk analisis penelitian ini menerapkan kerangka feminisme Islam yang melihat ajaran Islam memiliki nilai keadilan gender dan perlu ditafsirkan kembali secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukan bahwa, pada tahun 1988–2010 adalah fase konsolidasi SIS mengembangkan faham feminis, melakukan advokasi hukum terkait Undang-Undang Keluarga Islam, serta membangun jaringan transnasional. Setelah 2010 hingga 2018, SIS menghadapi tantangan baru seperti fatwa yang menyesatkan, perpecahan internal, serta pergeseran fokus perjuangan ke dunia digital. Selama sepuluh tahun terakhir, SIS konsisten mengkampanyekan isu kekerasan berbasis gender, hak anak, dan pelecehan seksual, serta memperkuat kedudukan dalam jaringan feminisme Islam global melalui Musyawarah dan program <em>Faith for Rights</em>. Secara keseluruhan, SIS menjadi pionir feminisme Islam di Asia Tenggara dengan pendekatan yang mengintegrasikan tafsir inovatif, advokasi hukum, dan aktivisme digital dalam memperjuangkan kesetaraan gender di ruang publik serta pribadi</p>Vivin Alya CahyaniAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052493500Akar Historis Emansipasi Muslimah di Indonesia: Peran Pendidikan pada Awal Abad ke-20
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3766
<p>Penelitian ini membahas peran pendidikan Islam dalam mendorong emansipasi Muslimah di Indonesia pada awal abad ke-20. Permasalahan yang diangkat berfokus pada bagaimana kondisi perempuan Muslim sebelum abad ke-20, perkembangan pendidikan Islam bagi perempuan pada awal abad ke-20, serta kontribusi pendidikan Islam terhadap munculnya kesadaran emansipasi di kalangan Muslimah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara pendidikan Islam dan gerakan emansipasi perempuan dalam konteks sosial, keagamaan, dan sejarah masyarakat Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (<em>library research</em>) dengan pendekatan historis, melalui analisis dari berbagai sumber tertulis seperti buku dan jurnal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam menjadi sarana pembebasan sosial yang membuka akses belajar bagi perempuan dan menumbuhkan kesadaran terhadap ketidaksetaraan gender. Melalui lembaga-lembaga pendidikan modern seperti Diniyah Putri dan Aisyiyah, perempuan Muslim mulai memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sosial, dan juga kebangsaan. Dengan demikian, pendidikan Islam berperan penting sebagai dasar lahirnya emansipasi Muslimah yang tumbuh dari nilai-nilai keislaman dan semangat pembaruan.</p>M Esa Dhiyaulhaq AriefImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052501508Nilai-Nilai Haditsul Ifki dalam Mencegah Hoaks dan Kekerasan Digital pada Perempuan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3809
<p><strong>Abstrak:</strong> Kemajuan teknologi di era digital telah membuka cakrawala komunikasi tanpa batas, mempercepat arus informasi melintasi ruang dan waktu. Namun, dibalik kemudahan itu terselip ancaman serius yakni merebaknya hoaks dan bentuk-bentuk kekerasan digital terutama yang menimpa perempuan. Penelitian ini berupaya menelisik fenomena tersebut dengan menjadikan kisah agung Sayyidah Aisyah r.a. yang menjadi asbabul nuzul Q.S An-Nur ayat 11-21, yang menjadi landasan konseptual dalam membangun etika bermedia di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis sumber primer seperti kitab tafsir, hadits, dan sirah nabawiyah serta sumber sekunder berupa buku maupun jurnal ilmiah. Kajian ini diperkuat dengan teori feminisme digital yang menekankan pentingnya kesetaraan gender dan perlindungan perempuan di ruang digital. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa haditsul ifki mengajarkan nilai <em>tabayun, husnudzon, tawaquf, wara’, </em>dan berpikir kritis menjadi dasar etika bermedia. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam konteks kekinian terutama untuk menumbukan kesadaran kolektif di bidang pendidikan, masyarakat, dan pemerintahan dalam memerangi hoaks dan kekerasan digital yang menimpa perempuan. Upaya ini dapat diwujudkan melalui dengan edukasi berkelanjutan dan sosialisasi etika digital di ruang digital.</p>Shofiya Wardatul JannahAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052509525Dakwah Kultural Gus Baha’: Continuity and Change dalam Tradisi Keilmuan Islam
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3761
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan dakwah digital Gus Baha dengan menekankan pada pola dakwah kultural serta penerapan <em>continuity and change</em> dalam tradisi keilmuan Islam. Fokus penelitian diarahkan untuk menjawab dua pertanyaan: (1) bagaimana pola dakwah kultural Gus Baha, dan (2) bagaimana penerapan <em>continuity and change</em> melalui pendekatan kultural dalam tradisi keilmuan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, pengumpulan data melalui analisis video YouTube, konten Instagram (@santri_gusbaha dan komunitas Santri Gayeng), wawancara televisi bersama Najwa Shihab dan Quraish Shihab, serta sumber sekunder berupa artikel, buku, dan jurnal. Analisis data dilakukan dengan teori <em>continuity and change</em> untuk melihat keterhubungan antara tradisi pesantren dan inovasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola dakwah Gus Baha bersifat kultural, memadukan humor, bahasa lokal, dan kisah sederhana dengan rujukan kitab klasik dan sanad pesantren. Selain itu, penerapan <em>continuity and change</em> terbukti positif: tradisi pesantren tetap terjaga melalui rujukan kitab dan sanad, sementara perubahan medium digital memperluas jangkauan dan efektivitas dakwah.</p>Zakharia Arif Maulana SasmitoAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052526534Dinamika Pelestarian Nilai Kebudayaan Batik Tulis Tanjung Bumi Bangkalan Madura
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3755
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dinamika pelestarian nilai kebudayaan Batik Tulis Tanjung Bumi sebagai warisan budaya lokal yang memiliki nilai historis, estetis, dan filosofis tinggi bagi masyarakat Madura, khususnya di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Fenomena globalisasi dan perkembangan industri modern menyebabkan terjadinya pergeseran nilai budaya serta perubahan pola kehidupan masyarakat yang berpotensi mengancam keberlanjutan tradisi batik tulis tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menggali bagaimana upaya masyarakat, pengrajin, serta pemerintah daerah dalam melestarikan nilai-nilai kebudayaan yang terkandung dalam Batik Tulis Tanjung Bumi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi terhadap pengrajin batik, tokoh budaya, dan pihak pemerintah daerah. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik guna memastikan keabsahan temuan penelitian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian Batik Tulis Tanjung Bumi merupakan proses dinamis yang melibatkan interaksi antara tradisi, ekonomi, dan modernitas. Diperlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha kreatif untuk menjaga kesinambungan nilai budaya batik tulis sebagai identitas lokal sekaligus sumber ekonomi kreatif masyarakat Madura.</p>Ivan MaulanaImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052535544Peran Perempuan dalam Dukungan Logistik Perang Uhud: Studi pada Aisyah binti Abu Bakar dan Rumaisha’ binti Milhan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3750
<p>Kajian mengenai keterlibatan perempuan dalam sejarah Islam sering kali menempatkan mereka sebagai aktor sekunder, sementara peran penting mereka dalam mendukung perjuangan umat kurang mendapat perhatian. Artikel ini penting karena memberi perspektif baru tentang kontribusi perempuan dalam jihad Islam awal, khususnya pada Perang Uhud (3 H/625 M) yang selama ini lebih menonjolkan heroisme sahabat laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguraikan biografi Aisyah binti Abu Bakar dan Rumaisha’ binti Milhan (Ummu Sulaim), 2) mengidentifikasi faktor yang memengaruhi keterlibatan mereka dalam Perang Uhud, dan (3) menjelaskan bentuk dukungan logistik bagi pasukan Muslim. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan historis dan analisis deskriptif terhadap sumber primer dan sekunder, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Al-Maghazi al-Waqidi, dan Al-Tabaqat al-Kubra Ibn Sa‘d. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan Aisyah dan Ummu Sulaim dipengaruhi faktor religius, keluarga, sosial, dan spiritual. Mereka berperan aktif mengangkut air, merawat prajurit, mengumpulkan perlengkapan perang, serta memberi dukungan moral. Aktivitas tersebut tergolong jihad non-kombatan yang bernilai teologis setara dengan perjuangan bersenjata. Kajian ini menegaskan bahwa peran perempuan dalam sejarah Islam bersifat integral dan menunjukkan penghargaan Islam terhadap kontribusi mereka dalam ranah sosial dan kemanusiaan.</p>Nur Nailatus Sa'adahMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052545558Harmoni Islam dan Budaya Lokal Masyarakat Sidorejo, Ngawi dalam Tradisi Napak Tilas Bersih Desa Bulan Muharram
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3746
<p>Tradisi Napak Tilas Bersih Desa yang dilaksanakan setiap bulan Muharram di Desa Sidorejo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, merupakan wujud perpaduan antara nilai-nilai keislaman dan budaya lokal yang masih terjaga hingga kini. Kegiatan bersih desa adalah sebuah ritual yang turun temurun diwariskan dan dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharram sebagai bentuk penghormatan serta rasa terima kasih kepada para leluhur yang telah membabad desa. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan dan bentuk rasa syukur masyarakat, tetapi juga sebagai upaya menjaga sejarah desa dan mempererat hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hubungan antara ajaran Islam dan budaya setempat tercermin dalam pelaksanaan tradisi napak tilas. Fokus penelitian dalam tradisi ini meliputi: Bagaimana latar belakang munculnya tradisi napak tilas bersih desa pada bulan Muharram di Desa Sidorejo, Apa saja bentuk kegiatan yang diselenggarakan dalam Tradisi Napak Tilas, dan Bagaimana nilai-nilai Islam dan budaya lokal dapat saling terhubung dalam pelaksanaan tradisi Napak Tilas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang dapat disimpulkan melalui tradisi napak tilas bahwa masyarakat dapat membuktikan Islam mampu beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan inti ajarannya.</p>Kheizka Dhana Daiva AflyuraMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052559566Kepemimpinan Politik Yazid bin Muawiyah 680-683 M
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3749
<p>Penelitian ini mengkaji kepemimpinan politik Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah kedua dalam Dinasti Umayyah yang menghadapi berbagai tantangan politik dan sosial. Masalah utama dalam penelitian ini adalah konflik internal yang terjadi selama pemerintahannya serta dampaknya terhadap kesatuan umat Islam dan stabilitas kekhalifahan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis gaya kepemimpinan Yazid bin Muawiyah, kebijakan-kebijakan yang diterapkan, serta faktor-faktor yang menyebabkan konflik politik selama masa pemerintahannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis dengan analisis dokumen primer dan sekunder terkait periode kekuasaan Yazid bin Muawiyah (680-683 M). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Yazid bin Muawiyah diwarnai oleh kontroversi politik yang signifikan, terutama terkait peristiwa Karbala dan pemberontakan di berbagai wilayah kekhalifahan. Penelitian ini mengungkap bahwa meskipun Yazid memiliki visi untuk mempertahankan kekuasaan Umayyah, pendekatan politik yang ditempuhnya justru memperdalam perpecahan dalam komunitas Islam dan memicu gerakan perlawanan yang berkelanjutan. Penelitian ink memberikan kontribusi penting dalam pemahaman dinamika politik Islam pada periode transisi setelah masa Khulafaur Rasyidin.</p>Siti Wahidatul ChoiriyahAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052567576Fungsi Masjid Agung Cordoba: Sebelum, Semasa dan Sesudah Islam
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3738
<p>Penelitian ini mengkaji fungsi Masjid Agung Cordoba dalam tiga periode sejarah: sebelum, semasa, dan sesudah masa kekuasaan Islam di Andalusia meliputi: fungsi bangunan sebelum Islam, fungsi masjid selama masa kejayaan Islam, dan transformasi fungsi setelah pengambilalihan oleh kekuasaan Kristen. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan perubahan fungsi masjid dari segi keagamaan, sosial, dan politik sepanjang lintas sejarah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, melalui analisis sumber-sumber historis dan akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum Islam, lokasi masjid merupakan tempat ibadah Romawi dan Visigoth. Pada masa Islam, masjid berfungsi sebagai pusat ibadah, pemerintahan, pendidikan, dan budaya. Setelah Reconquista, fungsi masjid berubah menjadi katedral dan mengalami berbagai modifikasi arsitektur dan makna simbolik. Studi ini menunjukkan bahwa Masjid Agung Cordoba merupakan simbol dinamika peradaban yang mengalami transformasi fungsi sesuai dengan kekuatan politik dan ideologi yang berkuasa.</p>Ajeng SetiowatiAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052577588Naskah Dewi Sritanjung: Mengungkap Pesan Moral dalam Perspektif Budaya dan Sejarah
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3724
<p>Naskah Dewi Sritanjung merupakan karya sastra tradisional yang sarat dengan nilai moral, sosial, dan budaya yang tumbuh dalam konteks sejarah masyarakat Jawa Timur, khususnya Banyuwangi. Tujuan kajian ini adalah untuk mengungkap pesan moral yang terkandung dalam kisah Dewi Sritanjung melalui pendekatan budaya dan sejarah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis teks naskah serta kajian kontekstual terhadap latar budaya dan sejarahnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kisah Dewi Sritanjung tidak hanya menggambarkan kesetiaan dan kejujuran seorang perempuan terhadap suaminya, Sidapaksa, tetapi juga merefleksikan pandangan masyarakat Jawa terhadap nilai kesucian, keadilan, dan karma. Dalam perspektif sejarah, cerita ini berakar pada periode peralihan Hindu–Buddha ke Islam di wilayah Blambangan, yang memengaruhi bentuk simbolik dan nilai spiritual dalam kisahnya. Dengan demikian, naskah Dewi Sritanjung dapat dipandang sebagai cerminan identitas budaya lokal sekaligus media transmisi moral lintas generasi.</p>M As Sabiq Bis SunanNyong Eka Teguh Iman Santosa
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052589603Peran KH. Bisri Syansuri dalam Memperjuangkan Kesetaraan Gender
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3762
<p data-start="125" data-end="962">Penelitian ini bertujuan mengungkap peran KH. Bisri Syansuri dalam memperjuangkan kesetaraan gender melalui pendekatan kualitatif naratif dan studi pustaka terhadap berbagai sumber relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepedulian KH. Bisri Syansuri terhadap ketimpangan pendidikan bagi perempuan mendorongnya membuka akses pembelajaran ilmu-ilmu Islam bagi santri perempuan di bawah bimbingan langsungnya. Sikap progresif ini menegaskan pandangannya bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual dan moral yang setara dengan laki-laki. Dalam konteks legislasi, penolakannya terhadap RUU Perkawinan didasarkan pada keyakinan bahwa regulasi tersebut harus selaras dengan prinsip-prinsip Islam yang menjunjung keadilan, sehingga ia menginisiasi musyawarah para kiai untuk merumuskan sikap keagamaan yang komprehensif. Upaya KH. Bisri Syansuri sejalan dengan teori feminisme Mary Wollstonecraft yang menegaskan bahwa perempuan berhak atas pendidikan rasional sebagai dasar kesetaraan dan kemandirian. Wollstonecraft memandang bahwa ketidaksetaraan bukanlah kodrat, melainkan konstruksi sosial yang harus diluruskan melalui akses pendidikan dan penguatan nilai keadilan. Dengan membuka ruang belajar dan menolak diskriminasi berbasis gender, KH. Bisri Syansuri menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan seiring dengan cita-cita feminisme tentang kesetaraan dan kemanusiaan.</p>Izzan Lana AulaNyong Eka Teguh Iman Santosa
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052604612Intgerasi Budaya Lokal dan Islam: Tradisi Cowekan Serta Hadrah Ishari dalam Maulid Nabi di Masjid Agung Jamik Bangil
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3758
<p>Di Masjid Agung Jamik Bangil terdapat sebuah tradisi unik ketika memperingati Maulid Nabi yakni adanya tradisi cowekan dan Hadrah Ishari. Tradisi cowekan merupakan tradisi membawa cobek yang diisi dengan hasil bumi warga sekitar yang nantinya akan ditukar dengan milik warga yang lain untuk dibawa pulang. Sedangkan Hadrah Ishari dimainkan untuk mengiringi pembacaan Maulid diba’. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memaparkan latar belakang dari integrasi budaya lokal dan Islam dalam tradisi cowekan dan Hadrah Ishari kemudian menjelaskan bentuk serta makna yang dikandungnya dan apa implikasinya dalam pembentukan nilai religiusitas dan solidaritas jemaah. Maka, penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan sumber primer wawancara mendalam dengan takmir masjid dan dokumentasi kegiatan. Hasil temuan menunjukkan, pemilihan cobek sebagai wadah disebabkan saat itu masyarakat belum banyak memakai wadah makan seperti sekarang dan hadrah Ishari yang memang berakar kuat di Pasuruan. Bentuk integrasinya diwujudkan dengan membawa cobek sebagai tempat makanan sebab cobek dianggap sebagai representasi dari manusia dan Hadrah Ishari sebagai bentuk sukacita atas lahirnya nabi Muhammad. Sedangkan implikasinya meliputi pengorbanan sebagai umat Islam untuk Nabi atau kedermawanan dan sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah yang syar’i dengan tetap mengakar dari kesenian lokal.</p>Vivi Rochimatul AiniMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052613627Latar Belakang Pemikiran Gus Dur tentang Dialog Antaragama
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3839
<p>Penelitian ini membahas pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang Islam dan dialog antaragama dalam konteks pluralisme Indonesia. Permasalahan penelitian ini berfokus pada bagaimana latar belakang kehidupan Gus Dur membentuk pandangan inklusifnya terhadap agama serta relevansi pemikirannya dalam memperkuat toleransi di masyarakat majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan biografi intelektual Gus Dur dan menganalisis gagasannya mengenai Islam yang humanis, terbuka, dan pluralistik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, mengkaji karya-karya Gus Dur seperti <em>Islamku, Islam Anda, Islam Kita</em> serta literatur sekunder terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman pendidikan Gus Dur di pesantren dan luar negeri membentuk cara pandangnya terhadap keberagaman. Ia menekankan bahwa dialog antaragama adalah kebutuhan moral untuk memperkuat toleransi dan solidaritas kemanusiaan. Pemikiran tersebut terbukti relevan dalam merespons tantangan intoleransi dan konflik identitas di Indonesia. Kontribusi gagasannya menjadi landasan penting dalam membangun harmoni lintas iman serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan.</p>Fachrel Maulana IchbalAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052628634Akulturasi Islam dan Tradisi Kejawen di Mataram Abad XVII Menurut De Graaf (1613-1703)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3770
<p>Studi ini mengkaji perspektif HJ de Graaf tentang akulturasi Islam dan adat Jawa di Mataram selama abad ke-17, dengan fokus khusus pada masa pemerintahan Sultan Agung dari tahun 1613 hingga 1645. Tiga isu-isu utama yang dibahas: pemahaman De Graaf tentang proses akulturasi Islam dalam Kejawen; kedua , karakteristik dan keterbatasan analisis De Graaf; dan ketiga, bagaimana perspektif De Graaf dibandingkan dengan karya-karya sejarawan lain, seperti Ricklefs atau Sartono Kartodirdjo. Karya De Graaf, “De Regering van Sultan Agung dan Kerajaan - Kerajaan Islam di Jawa, ini menjadi sumber utama penelitian. Dengan menggunakan studi historiografi dan kajian utama studi primer. Penelitian ini menunjukkan bahwa De Graaf memandang akulturasi Islam-Kejawen sebagai proses bertahap yang menampilkan sinkretisme antara nilai-nilai Islam dan kosmologi Jawa kuno. Salah satu ciri analisis De Graaf adalah penggunaan babad Jawa sebagai sumber lokal yang dipadukan dengan dokumen kolonial. Namun analisis ini juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti kecenderungan ke arah eurosentris dan kurangnya pandangan sosial rakyat kecil. Analisis De Graaf lebih banyak tekanan pada peran elit Mataram dan politik istana. Studi ini menegaskan karya-karya De Graaf harus di integrasikan ke dalam tradisi historiografi kolonial yang berupaya mengakses sumber - sumber lokal sambil tetap dibatasi oleh kerangka interpretatif Eropa.</p>Faiza Eka KurniaAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052635647Kontribusi Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Jejaring Ulama Nusantara
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3975
<p>Tulisan ini berfokus kepada analisis motivasi Syaikh Nawawi Al-Bantani, mencakup aspek kehidupan, intelektual serta sumbangsihnya. Secara spesifik, penelitian ini mengetahui bagaimana kontribusi Al-Bantani mempengaruhi jaringan ulama di Nusantara bagi generasi selanjutnya. Supaya mencapai tujuan yang diinginkan, penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research) dengan cara menghimpun data yang kredibel dari sumber-sumber ilmiah seperti buku dan jurnal. Data yang telah didapat kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif untuk melaksanakn penggambaran yang akurat, faktual dan sistematis. Al-Bantani dikenal sebagai sosok yang sangat produktif dalam menulis banyak kitab dengan menggunakan bahasa Arab. Kontribusi utamanya adalah dalam jarangan murid yang kemudian hari meneruskan perjuangannya serta pesantren yang berada di Nusantara. Murid-murid Al-Bantani yang mashyur namanya antara lain adalah Syaikhona Kholil Bangkalan, Syekh Ahmad Khaotib Al-Minangkabawi, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Murid Al-Bantani ini mengembangkan model pemikiran yang terbagi menjadi kelompok modernis (di antaranya Syekh Ahmad Khotib dan KH. Ahmad Dahlan) dan tradisionalis (seperti KH. Hasyim Asy’ari). Kontribusi penting dari kelompok tradisionalis antara lain pendirian Nahdlotul Ulama, organisasi terbesar di Indonesia dan peran sentral dalam resolusi jihad untuk melawan penjajah.</p> <p> </p>M. Fahmi AmrullahWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052648660Pengaruh Kitab Ihya’ Ulumuddin dalam Pengembangan Tradisi Pesantren Al Hidayah sebagai Aktualisasi Peradaban Islam
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3813
<p>Penelitian ini berangkat dari pentingnya kitab “Ihya’ Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali yang sejak lama menjadi rujukan utama dalam pembelajaran di pesantren Indonesia. Masalah yang dikaji adalah bagaimana kitab ini memengaruhi perkembangan tradisi pendidikan dan kehidupan keagamaan di Pesantren Al Hidayah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, serta bagaimana peranannya dapat dilihat sebagai wujud nyata peradaban Islam. Tujuan penelitian adalah menggambarkan pengaruh ajaran “Ihya’ Ulumuddin” dalam membentuk pola pendidikan, menanamkan akhlak santri, dan memperkuat budaya pesantren yang berlandaskan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitab “Ihya’ Ulumuddin” tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi juga menjadi pedoman etika dalam keseharian santri Al-Hidayah. Pemahaman terhadap kitab ini mendorong terbentuknya tradisi keilmuan, peningkatan akhlak santri, serta penerapan nilai spiritual dalam kegiatan sosial. Dengan demikian, keberadaan kitab “Ihya’ Ulumuddin” di Pesantren Al Hidayah dapat dipandang sebagai bentuk nyata aktualisasi peradaban Islam dalam konteks masyarakat setempat.</p>Ali MashudiMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052661671Peran Fatayat NU dalam Gerakan Sosial (1950-2005)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3810
<p>Artikel ini mengkaji tentang Peran Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) dalam Gerakan Sosial di Indonesia pada periode 1950-2005, dengan fokus kajian bagaimana organisasi ini memobilisasi sumber daya sosial untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di lingkungan keagamaan dan masyarakat. Dalam penyusunan artikel ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologis historis, dan teori yang digunakan adalah teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory) yang dikemukakan oleh John D.McCarthy dan Mayer N.Zald. Sumber primer yang didapatkan berasal dari buku yang berjudul ”Menapak Jejak Fatayat NU: Sejarah Gerakan, Pengalaman dan Pemikiran”, serta sumber sekunder yang didapatkan berasal dari artikel, jurnal serta web yang berhubungan dengan topik pembahasan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Fatayat NU telah memainkan peran strategis dalam transformasi sosial-keagamaan perempuan NU. Periode 1950-2005 menandai dinamika penting dalam kiprah Fatayat NU yang tidak hanya memperjuangkan hak-hak perempuan, tetapi juga memperkuat posisi perempuan dalam membangun bangsa melalui kerja sama lintas organisasi, lembaga pemerintah, dan mitra internasional. Dengan demikian, Fatayat NU menjadi contoh nyata gerakan sosial berbasis nilai keagmaan yang berkontirubusi terhadap perubahan sosial inklusif dan berkeadilan gender di Indonesia.</p>Siti RamandaniWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052672682Busana Nahdliyin dan Nahdliyat sebagai Identitas Keislaman Nusantara: Tinjauan Historis dan Kultural
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3729
<p>Busana Nahdliyin merupakan suatu simbol identitas keislaman Nusantara yang khas di Indonesia. Penelitian ini berfokus pada bagaimana busana Nahdliyin berkembang dalam tinjauan historis dan makna kultural dalam konteks Islam Nusantara serta peran busana dalam era modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana perkembangan busana Nahdliyin dalam konteks historis dan memahami makna kulturalnya dalam Islam Nusantara serta mengetahui peran busana di era modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis literatur, observasi, wawancara, dan dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa busana Nahdliyin berkembang melalui proses akulturasi antara tradisi Islam dan tradisi Nusantara yang sudah ada beabad-abad di Indonesia. Busana ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian dalam kehidupan sehari-hari, namun juga digunakan sebagai suatu identitas yang membedakan antara organisasi Islam Nahdlatul Ulama dengan kelompok Islam lainnya. Busana tersebut mencerminkan kesederhanaan dan kesopanan yang menjadi ciri khas Ahlussunnah wal jamaah yang dianut Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini busana Nahdliyin dapat dikatakan sebagai simbol warisan historis dan kultural yang dapat mempertahankan tradisi keislaman Nusantara dalam era globalisasi dan modern.</p>Delila Iktiara EdianaAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052683696Identitas Budaya Lokal dalam Pencak Sumping Banyuwangi
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3967
<p>Tradisi Pencak Sumping merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan identitas lokal. Tradisi ini diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur. Pencak Sumping tidak hanya menampilkan seni bela diri pencak silat, tetapi juga diperkaya dengan unsur simbolik berupa kue sumping (nogo sari) yang melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat. Pada masa lalu, tradisi ini dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah sekaligus media penguatan solidaritas warga. Namun, dalam perkembangannya, makna tersebut bergeser menjadi seni pertunjukan tahunan yang rutin digelar setiap Hari Raya Idul Adha, lengkap dengan ritual kenduri dan Ider Bumi. Sejak tahun 2011, tradisi ini secara resmi diberi nama Pencak Sumping, yang mempertegas jati diri masyarakat Mondoluko serta menjadikannya simbol identitas budaya yang membedakan mereka dari komunitas lain. Dengan demikian, Pencak Sumping tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan adat, tetapi juga sebagai perekat sosial, sarana pelestarian budaya Osing, dan potensi wisata budaya Banyuwangi.</p>Muhammad Khafid MuktadirWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052697703Peran Peran Mohammad Natsir dalam Dakwah dan Politik di Liga Muslim Dunia
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3835
<p>Mohammad Natsir (1908-1993) merupakan sosok penting dalam sejarah Islam dan politik di Indonesia serta berpengaruh di tingkat global. Selain menjabat sebagai Perdana Menteri ke-5 Indonesia dan pimpinan Partai Masyumi, ia juga aktif dalam organisasi Islam internasional seperti Presiden Liga Muslim Dunia dan Ketua Dewan Masjid Dunia. Kajian ini menggunakan literatur biografi dan jurnal akademik untuk menguraikan dampak serta relevansi kiprah Mohammad Natsir secara menyeluruh. Dalam kepemimpinannya di Liga Muslim Dunia, Natsir mengedepankan dakwah Islam yang moderat, inklusif, dan dialogis, menyesuaikan perjuangan Islam dengan dinamika politik global yang kompleks. Melalui pengaruhnya, Liga Muslim Dunia menjadi platform strategis untuk mempersatukan berbagai kelompok dan mazhab Islam serta memperkuat suara umat Islam dalam kancah diplomasi internasional, sekaligus menjembatani perbedaan budaya dan kepentingan nasional. Natsir berhasil menggabungkan peran dakwah dan politik Islam melalui pendekatan yang moderat dan menerima keberagaman, mempererat solidaritas umat Islam di berbagai negara serta fokus pada isu-isu strategis seperti perjuangan untuk Palestina. Pemikirannya menekankan pentingnya integrasi prinsip-prinsip Islam dengan nilai demokrasi dan keadilan sosial, serta menolak sikap politik ekstrem yang berpotensi memecah belah. Lewat peran sentralnya di berbagai organisasi Islam dunia, Natsir turut menguatkan posisi umat Islam Indonesia dan global dalam diplomasi internasional. Warisan pemikirannya sangat berpengaruh dalam perkembangan dakwah dan politik Islam modern serta menginspirasi generasi masa kini untuk menerapkan dakwah yang inklusif, damai, dan progresif dalam mengelola pluralitas di masyarakat global.</p>Rizqy Putra RadityaAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052704712Redefinisi Konsep Jihad: Relevansi Gagasan Mirza Ghulam Ahmad terhadap Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3905
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Mirza Ghulam Ahmad (1835–1908) mengenai redefinisi konsep jihad dalam konteks Islam modern serta relevansinya terhadap upaya memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia. Sebagai pendiri Gerakan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad menafsirkan jihad bukan sebagai peperangan fisik, melainkan sebagai perjuangan moral, intelektual, dan spiritual untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan historis-analitis, melalui telaah terhadap karya-karya primer Mirza Ghulam Ahmad seperti The British Government and Jihad dan Barahin-e-Ahmadiyya, serta literatur sekunder yang relevan dengan sejarah pemikiran Islam modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa redefinisi jihad menurut Ahmad menggeser orientasi jihad dari dimensi militer menuju dimensi etika dan spiritual. Pandangan ini menekankan jihad sebagai upaya melawan hawa nafsu, menyebarkan ilmu, serta memperjuangkan kemanusiaan dan perdamaian. Dalam konteks Indonesia yang plural dan multikultural, gagasan jihad damai Ahmad memiliki relevansi yang kuat dalam memperkuat toleransi antarumat beragama dan membangun kehidupan beragama yang harmonis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan wacana Islam moderat dan perdamaian sosial di Indonesia.</p>Nur AiniImam Ghazali Said
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052713723Tradisi Maulid Nabi Muhammad Saw di Desa Kalirejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3919
<p>Penelitian ini membahas tentang tradisi maulid nabi yang ada di Desa Kalirejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Permasalahan dari penelitian ini tentang bagaimana proses dan nilai Maulid Nabi yang ada di Desa Kalirejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Tradisi ini merupakan wujud akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami proses serta nilai perayaan Maulid Nabi yang menjadi sarana memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, melalui wawancara mendalam dengan warga yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kalirejo memaknai Maulid Nabi sebagai peringatan atas kelahiran sekaligus keteladanan Nabi Muhammad SAW, yang diwujudkan dalam kegiatan pembacaan Diba’ dan doa bersama. Rangkaian acara meliputi pembacaan Diba’ pada malam hari serta doa bersama pada pagi hari, disertai tradisi membawa asahan (hidangan) yang kemudian ditukar antarwarga sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi rezeki. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi keagamaan, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong dan menjaga harmoni sosial di masyarakat Kalirejo.</p>Ikrimatus SaniaAbd A’laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052724729Pengaruh Transformasi Tradisi Tayub pada Kemerosotan Moral Masyarakat Islam Era Kolonial
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3901
<p>Penelitian ini menelaah perubahan makna tradisi tayub pada periode kolonial dan pengaruhnya terhadap kemerosotan nilai moral dalam masyarakat Islam di Jawa. Pada awalnya, tayub berperan sebagai ritus agraris dan simbol kesuburan dengan muatan spiritual yang kuat. Namun, pada masa kolonial, tayub mengalami transformasi menjadi bentuk hiburan komersial akibat intervensi kekuasaan dan dinamika modernisasi sosial-ekonomi. Perubahan ini memengaruhi persepsi masyarakat, sehingga tayub yang sebelumnya dianggap kesenian sakral kini dipandang sebagai tontonan profan yang kerap dikaitkan dengan perilaku amoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-historis dengan metode hermeneutik kultural, melalui analisis arsip kolonial, catatan perjalanan, dan literatur akademik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi tayub merupakan bentuk komodifikasi budaya yang mencerminkan dominasi kolonial dalam membentuk ulang moralitas dan identitas masyarakat Jawa. Respon masyarakat Islam terhadap perubahan ini beragam, mulai dari penolakan hingga adaptasi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai agama. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa pergeseran makna tayub pada masa kolonial berdampak tidak hanya pada aspek seni pertunjukan, tetapi juga pada struktur moral dan budaya masyarakat Islam.</p>Mochamad Fikri HidayatullohWasid
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052730738Perspektif Gus Dur terhadap Hubungan Agama dan Kebudayaan yang Dinamis 1940-2009
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4292
<p>Artikel ini mengekplorasi pemikiran Gus Dur tentang hubungan agama dan kebudayaan yang dinamis. Masalah yang dikaji dalam artikel ini mencangkup biografi Gus Dur, hubungan agama dan kebudayaan, bentuk apresiasi Gus Dur terhadap kebudayaan dan tradisi lokal yang dinamis. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kepustakaan, yakni menelaah sumber-sumber pustaka yang relevan. Sumber data meliputi publikasi akademik mengenai intelektual Gus Dur dan buku karangan Gus Dur seperti: <em>Pergulatan Negara Agama dan Budaya, Islamku Islam Anda Islam Kita, dan Islam Kosmopolitan</em>. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Gus Dur tentang hubungan agama dan kebudayaan bersifat dinamis dan dipandang sebagai sesuatu yang hidup, saling melengkapi, dan melekat pada kehidupan manusia. Temuan penelitian menegaskan bahwa Gus Dur mendorong sikap terbuka terhadap keberagaman, serta mengedepankan nilai-nilai universal Islam sebagai landasan pengembangan kebudayaan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar historisnya.</p>Maulidatur RobikhahAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052739751Transformasi dan Upaya Pelestarian Wayang Kulit: Dari Budaya Lokal-Dakwah ke Digital-Dakwah
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4290
<p>Wayang kulit merupakan warisan budaya tak benda yang memiliki nilai religius, pendidikan, moral, hingga identitas kebangsaan. Penelitian ini berangkat dari permasalahan menurunnya minat generasi muda terhadap wayang kulit di tengah arus globalisasi, meskipun seni ini telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2003. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perjalanan sejarah wayang kulit, fungsi dan nilai-nilai yang dikandungnya, pengaruh Islam terhadap perkembangannya, serta tantangan dan upaya pelestarian di era modern. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis sumber-sumber tertulis, seperti prasasti, karya sastra klasik, dan literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media dakwah, pendidikan moral, dan penguatan identitas budaya bangsa. Pengaruh Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, memperlihatkan akulturasi antara Islam dan budaya lokal yang memperkaya isi cerita pewayangan. Namun, globalisasi dan budaya populer modern menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan seni ini. Upaya pelestarian melalui inovasi pertunjukan, pendidikan, media digital, dan kolaborasi antar pihak menjadi kunci untuk menjaga eksistensi wayang kulit di masa depan.</p>Hisyam Alwi Wahyudi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052752758Relevansi Pemikiran Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari dengan Konsep Pendidikan Modern
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4288
<p>KH Hasyim Asy’ari mempunyai peranan signifikan dalam sejarah pemikiran pendidikan di Indonesia dengan menegaskan nilai-nilai moral, akhlak, serta keseimbangan yang ada diantara ilmu agama dan ilmu umum pada proses pendidikan. Disisi lain konsep pendidikan modern menekankan rasionalisme, kemandirian dalam berpikir dan teknologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bahwa terdapat adanya relevansi pemikiran pendidikan KH Hasyim Asy’ari dengan prinsip-prinsip pendidikan modern yang masih digunakan hingga saat ini. Model penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan study library research, data yang dikumpulkan melalui kajian yang ada pada karyanya, literatur tentang pendidikan islam, serta teori- teori pendidikan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada relevansi yang kuat pada pemikiran pendidikan KH Hasyim Asy’ari dengan pendidikan modern, khususnya dalam hal pengembangan karakter dalam diri seseorang, penyatuan ilmu dan pembentukan kepribadian secara utuh. Pemikiran KH Hasyim Asy’ari dapat menjadi gagasan untuk mengembangkan pendidikan relevan dengan aspek intelektual yang berbasis religius namun tetap fleksibel dalam perkembangan zaman yang modern.</p>Sita Dewi Asfiatun Ni'mahImam Ghazali Said
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052759766Tan Malaka, Madilog, dan Tantangan Pemikiran Islam di Indonesia
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4287
<p>Madilog merupakan karya monumental Tan Malaka yang membahas tentang materialisme, dialektika, dan logika serta relevansinya terhadap perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Madilog bukan hanya sebuah buku, tetapi juga sistem berpikir ilmiah yang dibuat Tan Malaka untuk menggantikan cara berpikir yang tidak rasional dan penuh mistik, yang menurutnya menghambat kemajuan bangsa Indonesia. Ia menulis Madilog sebagai alat untuk membebaskan cara berpikir rakyat Indonesia agar mampu memahami dunia sosial dengan logika, ilmu, dan kritis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami hubungan antara rasionalisme Tan Malaka dan pandangan keislaman yang berkembang di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), menggunakan analisis terhadap karya Tan Malaka yang berjudul Madilog dan berbagai jurnal ilmiah terkait. Hasilnya menunjukkan bahwa Madilog muncul dari kritik Tan Malaka terhadap logika mistik yang dianggap menghalangi kemajuan bangsa. Namun, beberapa tokoh pemikir Islam menganggap Tan Malaka keliru karena menganggap irasionalitas budaya sebagai bagian dari ajaran Islam, padahal Islam sebenarnya memiliki tradisi yang rasional dan ilmiah. Meskipun demikian, gagasan rasional dalam Madilog tetap relevan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pendidikan Islam di Indonesia, sebagai upaya pembebasan masyarakat dan pengembangan pemikiran keagamaan yang lebih maju.</p>Inung NurlelaAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052767775Surabaya dan Perkembangan Kawasan Eropa pada Awal Abad ke-20
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3954
<p>Penelitian ini membahas Surabaya dan Perkembangan Kawasan Eropa pada awal abad ke-20, saat kota tersebut mengalami perubahan besar menjadi pusat ekonomi dan pelabuhan modern di Hindia Belanda. Melalui kebijakan tata ruang kolonial, pemerintah Belanda menerapkan sistem pemisahan area tempat tinggal berdasarkan ras dan status sosial. Kawasan seperti Darmo, Ketabang, dan Simpang dibangun dengan konsep garden city bergaya Eropa, dilengkapi infrastruktur modern seperti jalan-jalan lebar, taman, dan sistem drainase yang tertata baik. Sementara itu, penduduk pribumi dan kelompok etnis lainnya ditempatkan di area terpisah dengan kondisi sosial ekonomi yang jauh lebih rendah. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif serta analisis spasial-historis untuk menelusuri keterkaitan antara kebijakan kolonial, perkembangan ekonomi, dan struktur sosial di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan permukiman Eropa mencerminkan modernitas kolonial yang disertai ketimpangan sosial. Walaupun membawa kemajuan dalam tata kota, kebijakan kolonial tersebut juga memperkuat pemisahan sosial yang dampaknya masih terlihat dalam struktur ruang dan identitas Surabaya masa kini.</p>Moch Rehan Alfaruqy
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052776785Tradisi Tradisi Wiwitan di Bojonegoro
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3932
<p>Penelitian ini mengkaji tradisi Wiwitan yang dilakukan oleh petani pada awal musim panen padi sebagai ungkapan rasa syukur dan doa atas hasil panen. Masalah yang diangkat adalah bagaimana tradisi Wiwitan memuat nilai-nilai sosial dan keagamaan yang berperan dalam memperkuat hubungan komunitas serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna filosofis, aspek sosial, dan nilai spiritual dalam tradisi Wiwitan. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui telaah literatur dan observasi partisipatif terhadap pelaksanaan ritual Wiwitan di masyarakat petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Wiwitan tidak hanya berfungsi sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai media pelestarian kearifan lokal yang menanamkan nilai gotong royong, keharmonisan, dan solidaritas sosial. Selain itu, tradisi ini mengandung nilai keagamaan berupa kesucian, ketaqwaan, keimanan, dan kesimbangan dengan alam yang memperkuat hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan dan lingkungan. Tradisi Wiwitan juga berperan sebagai penolak malapetaka dan simbol harapan panen yang melimpah.</p>Nur RohmanAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052786791Sejarah Perkembangan Infrastruktur Pendidikan Pada Pondok Pesantren Qomaruddin Gresik
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3900
<p>Infrastruktur merupakan elemen penting dalam mendukung aktivitas pendidikan, termasuk di lingkungan pondok pesantren. Pondok Pesantren Qomaruddin Gresik menjadi contoh bagaimana perkembangan infrastruktur berpengaruh terhadap kualitas proses belajar mengajar. Pada masa awal berdirinya lebih dari dua abad lalu pesantren ini masih memiliki sarana dan prasarana yang sangat terbatas, sehingga pembelajaran berlangsung dalam kondisi yang sederhana dan kurang memadai. Seiring perkembangan zaman, peningkatan infrastruktur dilakukan secara bertahap sehingga mampu memenuhi kebutuhan pendidikan modern. Perubahan ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan santri dalam belajar, tetapi juga memperkuat citra dan nilai pesantren di mata masyarakat, baik lokal maupun luar daerah. Oleh karena itu, kajian mengenai sejarah perkembangan infrastruktur pendidikan di Pondok Pesantren Qomaruddin Gresik menjadi penting untuk melihat bagaimana transformasi lingkungan fisik turut membentuk kualitas pendidikan di pesantren tersebut.</p> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Infrastruktur, pendidikan, dan Pondok Pesantren.</em></p>Moh Irfan EfendiDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052792804Pemikiran Islam Haji Agus Salim: Integrasi Agama dan Nasionalisme
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3860
<p>Artikel ini membahas pemikiran Haji Agus Salim tentang integrasi antara agama dan nasionalisme dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kajian ini dilatarbelakangi oleh problem klasik hubungan antara Islam dan negara yang hingga kini masih menjadi perdebatan penting dalam wacana kebangsaan Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dan teori modernisme Islam, penelitian ini menelaah karya, pidato, dan gagasan Haji Agus Salim mengenai hubungan antara nilai keislaman dan semangat nasionalisme. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemikiran Agus Salim menempatkan Islam sebagai sumber moral universal yang mendukung nasionalisme inklusif, demokratis, dan plural. Ia menolak dikotomi antara agama dan negara serta mengajukan model integratif yang menekankan moralitas, keadilan sosial, dan tanggung jawab kebangsaan. Pemikiran ini tetap relevan dalam menghadapi tantangan politik identitas dan penguatan moderasi beragama di Indonesia kontemporer.</p>Ridwan Aziz FadhillahAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052805811Perbedaan Kebudayaan Peringatan Ruwah Desa Gesikharjo Tuban dan Ruwahan Sendangduwur Lamongan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3850
<p>Tradisi ruwah merupakan bagian dari kearifan lokal Jawa yang masih dilestarikan di berbagai daerah, termasuk di Desa Gesikharjo, Tuban, dan Sendang Duwur, Lamongan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kebudayaan dalam peringatan ruwah di kedua desa tersebut melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruwah di Gesikharjo Tuban bercorak agraris dan komunal, tercermin dalam sedekah bumi, doa bersama, serta hiburan rakyat sebagai penguat solidaritas sosial. Sementara itu, ruwahan di Sendang Duwur Lamongan lebih menonjolkan dimensi religius, berpusat pada kompleks makam Sunan Sendang Duwur sebagai sarana penghormatan leluhur dan dakwah Islam. Perbedaan ini menunjukkan adanya dinamika interaksi antara tradisi lokal, agama, dan identitas masyarakat. Dengan demikian, ruwah tidak hanya berfungsi sebagai tradisi ritual, tetapi juga sebagai media integrasi sosial dan ekspresi budaya religius yang beragam sesuai konteks lokal.</p>Mahardika Akhlakul IchsanNyong Eka Teguh Iman Santosa
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052812820Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir (1955-2025): Peran dalam Transformasi Fikih Kenegaraan di Indonesia
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3781
<p>KH. Afifuddin Muhajir merupakan salah satu ulama pesantren yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pemikiran fikih tata negara di Indonesia. Permasalahan penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana latar pendidikan pesatren membentuk pemikirannya, bagaimana ia mengajarkan kitab-kitab klasik, serta bagaimana kontribusinya dalam menjembatani nilai-nilai Islam tradisional dengan kebutuhan pemerintahan dan demokrasi, terutama di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri biografi KH. Afifuddin Muhajir, mendeskripsikan perjalanan intelektualnya, serta menganalisis relevansi pemikiran fikih tata negara yang ia gagas terhadap konteks kenegaraan Indonesia. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan historis-intelektual, memanfaatkan sumber primer berupa karya-karya beliau, serta sumber sekunder dari artikel jurnal, prosiding, dan publikasi akademik. Hasil penelitian menujukkan bahwa pendidikan di Pesantren Sukorejo membentuk dasar keilmuan beliau, terutama dalam ushul fiqh, sementara interaksinya dengan pendidikan formal dan forum keilmuan NU memperluas cakrawala pemikirannya. Pemikirannya tentang fikih tata negara menekankan nilai keadilan, kemaslahatan, dan persatuan, serta menempatkan Pancasila sebagai dasar negara yang tidak bertentangan dengan syariat. Dengan demikian, KH. Afifuddin Muhajir berperan penting dalam mengintegrasikan tradisi pesantren dengan tuntutan demokrasi modern.</p>Muhammad Faris Izzuddin
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052821827Dinamika Kekuasaan Islam di Nusantara Abad ke-17: Studi Komparatif Sultan Iskandar Muda di Aceh dan Sultan Agung di Mataram
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3777
<p>Penelitian ini membahas dinamika kekuasaan Islam di Nusantara pada abad ke-17 melalui studi komparatif terhadap dua penguasa besar, Sultan Iskandar Muda di Kesultanan Aceh dan Sultan Agung di Kesultanan Mataram. Masalah utama penelitian ini adalah bagaimana perbedaan konteks sosial-politik memengaruhi pola kepemimpinan keduanya dalam menghadapi tantangan internal dan eksternal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis persamaan dan perbedaan strategi politik, militer, dan keagamaan yang diterapkan oleh kedua sultan dalam mempertahankan legitimasi dan stabilitas kekuasaan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan pendekatan komparatif melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sultan Iskandar Muda memperkuat kekuasaannya melalui orientasi maritim, perdagangan, dan diplomasi internasional, sedangkan Sultan Agung meneguhkan kekuasaan agraris berbasis birokrasi dan integrasi budaya Islam-Jawa. Keduanya menggunakan Islam sebagai dasar legitimasi politik dan simbol kesatuan kerajaan, serta berhasil membawa Aceh dan Mataram mencapai puncak kejayaan Islam di Nusantara sebelum mengalami kemunduran akibat faktor internal dan eksternal.</p>Silviana ZahroAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052828839Transformasi Sosial dan Budaya Kota Lama Surabaya: Prespektif Sejarah Perkotaan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3823
<p>Penelitian berjudul Transformasi Sosial dan Budaya Kota Lama Surabaya Menurut Perspektif Sejarah Perkotaan ini membahas dinamika perubahan sosial dan budaya di kawasan Kota Lama Surabaya sebagai akibat dari perkembangan ekonomi, urbanisasi, serta interaksi antara masyarakat lokal dengan pengaruh kolonial dan modernisasi. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana perubahan tata ruang kota dan aktivitas ekonomi memengaruhi struktur sosial, identitas budaya, serta nilai-nilai historis masyarakat setempat. Hal ini membuat kawasan rentan kehilangan autentisitas sejarahnya dan berisiko berubah menjadi ruang wisata komersial semata.Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bentuk-bentuk transformasi sosial budaya yang terjadi, serta menafsirkan maknanya dalam konteks sejarah perkotaan Surabaya. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi arsip, serta observasi lapangan di kawasan Kota Lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Lama Surabaya mengalami pergeseran fungsi dari pusat perdagangan kolonial menjadi ruang warisan budaya yang merefleksikan perpaduan antara tradisi lokal dan nilai modern. Transformasi ini memperlihatkan upaya pelestarian identitas kota di tengah tekanan perubahan sosial dan ekonomi.</p>Dilla Tri WulandariAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052840855Sejarah Sidayu: Transformasi dari Kawedanan menjadi Kadipaten
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4077
<p>Proses historis dinamika sosial-politik yang melatarbelakangi transformasi Sidayu dari sebuah kawedanan menjadi kadipaten dalam konteks sejarah peradaban Islam di Jawa. Transformasi Sidayu dari kawedanan menjadi kadipaten berlangsung secara bertahap antara sekitar abad-17, melalui peran ulama dan jaringan Islam pesisir. Kajian ini berangkat dari pandangan bahwa Sidayu bukan sekadar entitas administratif, melainkan juga ruang peradaban yang menjadi simpul interaksi antara kekuasaan politik, penyebaran Islam, dan aktivitas perdagangan pesisir. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan faktor-faktor yang mendorong perubahan status pemerintahan Sidayu serta menelusuri peran tokoh-tokoh lokal dan jaringan ulama dalam proses transformasi tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian sejarah dengan pendekatan kualitatif melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi Sidayu sejak abad-17, tidak hanya dipengaruhi kebijakan kolonial, tetapi juga kekuatan sosial-keagamaan yang tumbuh melalui peran ulama yang menjadi motor penggerak sosial, penopang legitimasi politik, dan penjaga identitas Islam lokal. Dengan demikian, peran ulama memiliki kontribusi penting dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai Islam Dalam konteks peradaban Islam diwilayah Sidayu. Menjadi sebuah bentuk adaptasi struktur politik Islam lokal terhadap dinamika kekuasaan kolonial dan modernisasi pemerintahan di Jawa Timur.</p>Diva AldinoNyong Eka Teguh Iman Santosa
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052856864Sejarah Sekaten Surakarta: Kontinuitas dan Perubahan dari Masa Sunan Kalijaga hingga Kontemporer
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3898
<p>Penelitian ini bertujuan menggambarkan Transformasi Tradisi Sekaten yang menjadi kegiatan khusus di Surakarta setiap tahunnya. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu kualitatif deskriptif, melalui observasi dan wawancara. Tradisi Sekaten muncul sejak zaman Sunan Kalijaga sekitar abad 15 menjadi salah satu kegiatan Dakwah Islam, dan bertepatan pada bulan Kelahiran Rasulullah Saw. Namun seiring berjalannya waktu Sekaten mengalami beberapa perubahan yang signifikan, dari ritual acaranya, fungsi, hingga kegiatan-kegiatannya. Di sekitar abad 18 ketika Kerajaan Mataram mengalami perpecahan, sehingga terdapat dua kekuasaan yakni Keraton Jogjakarta dan Surakarta. Dua keraton ini masing-masing memiliki Tradisi Sekaten berbeda fokus. Kasunanan Surakarta lebih terfokus sebagai pelestarian budaya dan hiburan, sedangkan Jogjakarta sebagai uapacara ritual kerajaan. Dan di era kini Tradisi Sekaten menjadi perpaduan antara budaya, hiburan, dakwah, dan wisata. Saat ini beberapa kegiatan yang menjadi pembaharu dalam acara Sekaten di Surakarta yaitu adanya tontonan aksi masyarakat, wisata pasar malam, dan gunungan yang dibawa mengelilingi desa bersama seluruh masyarakat.</p>Maya Rizkifatul AzifahDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052865877Peran Siti Musdah Mulia dalam Penguatan Feminisme di Kalangan Masyarakat Muslim Indonesia
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3707
<p>Sejak era Reformasi, feminisme di Indonesia telah melalui perkembangan yang signifikan. Sebagai hasilnya banyak tokoh perempuan penggerak feminisme yang bermunculan, salah satunya Siti Musdah Mulia. Artikel ini membahas peran Siti Musdah Mulia sebagai intelektual dan aktivis perempuan dalam memperjuangkan feminisme di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, dengan menekankan penerapan prinsip kesetaraan dan keadilan gender yang berlandaskan ajaran Islam yang humanis. Ia menunjukkan peran nyata melalui berbagai kegiatan advokasi, penulisan, serta keterlibatan aktif dalam organisasi sosial dan lembaga negara yang berfokus pada isu-isu perempuan. Dengan menggunakan pendekatan feminisme Islam, Musdah Mulia berusaha melakukan reinterpretasi terhadap teks-teks keagamaan agar lebih berpihak kepada perempuan dan menolak segala bentuk ketidakadilan berbasis gender. Penelitian ini menggunakan metode <em>library research</em> atau studi kepustakaan guna mengumpulkan data dari berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal ilmiah, karya tulis Siti Musdah Mulia, artikel dan website. Pendekatan yang digunakan adalah biografi intelektual yang bertujuan untuk menelusuri perjalanan hidup serta dinamika pemikiran tokoh tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perjuangan Musdah Mulia memiliki pengaruh signifikan dalam membangkitkan kesadaran gender di kalangan masyarakat Muslim serta turut mendorong lahirnya gerakan sosial yang berorientasi pada kesetaraan dan keadilan di Indonesia.</p>Salsabilah Rochmania PutriImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052878889Transisi Budaya Jawa Islam di Abad ke-17: Peran Bojonegoro Sebagai Jalur Utara-Selatan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3870
<p>Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran penting wilayah Bojonegoro dalam perubahan budaya Jawa menuju Islam pada abad ke-17. Fokus utamanya adalah melihat bagaimana Bojonegoro berfungsi sebagai jalur penghubung antara daerah pesisir utara dan wilayah pedalaman selatan Jawa Timur. Adapun pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimana letak geografis dan kondisi sosial Bojonegoro memengaruhi penyebaran agama Islam? (2) Perubahan budaya lokal seperti apa yang muncul akibat masuknya Islam di daerah ini? (3) Siapa saja tokoh yang berperan besar dalam proses Islamisasi di Bojonegoro?. Penelitian ini memakai pendekatan sejarah kualitatif, yaitu dengan mengkaji sumber-sumber tertulis dan peninggalan yang ada. Metodenya mencakup studi pustaka dan analisis sumber-sumber, cerita atau tradisi lisan, serta benda-benda keagamaan seperti masjid tua dan makam para ulama. Selain itu, penelitian ini juga didukung oleh literatur akademik tentang sejarah Islam di Jawa, jurnal antropologi budaya, dan kajian arkeologi. Dari hasil sementara, terlihat bahwa Bojonegoro punya peran penting sebagai pusat penyebaran Islam, terutama lewat jalur Sungai Bengawan Solo dan keberadaan pesantren-pesantren awal. Proses Islamisasi di daerah ini tidak hanya mengubah keyakinan masyarakat, tetapi juga memengaruhi struktur sosial, seni, dan cara hidup sehari-hari. Penelitian ini diharapkan bisa menambah pemahaman kita tentang sejarah lokal Bojonegoro dalam kaitannya dengan penyebaran Islam dan perubahan budaya di Jawa.</p>Cello Yasa Novembi RamadhaniNyong Eka Teguh Iman Santosa
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052890899Historisitas Asma’ Binti Abu Bakar dengan Ibunya serta Respons Rasulullah terhadap Relasinya
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3821
<p>Artikel ini menfokuskan pada Historisitas Asma’ binti Abu Bakar dengan Ibunya serta respon Rasulullah terhadap relaisnya yang mana menyoroti dinamika soaial keagamaan masyarakat awal melalui kisah hubungan Asma’ dengan ibunya yang non-Muslim dan respon Rasulullah saat peristiwa tersebut. Peristiwa ini menjadi latar belakang turunnya QS. Al-Mumtahanah ayat 8, yang menegaskan bahwa islam memperbolehkan umatnya untuk berbuat baik dan adil kepada non-Muslim selama mereka tidak memusuhi kaum muslimin. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kehidupan sosial dan keagamaan Asma’ binti Abu Bakar serta mengkaji sikap Rasulullah terhadap hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologis-historis melalui studi kepustakaan (library research) dengan teori Challenge and Response dari Arnold J. Toynbee. Challenge (tantangan) ketika Asma’ harus menjaga hubungan baik dengan ibunya yang berbeda keyakinan, sementara Response saat Rasulullah membolehkan tetap berbuat baik kepada ibunya. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa kisah Asma’ bukan hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga memiliki makna teologis dan sosial yang menegaskan keseimbangan anatara keteguhan akidah dan penghormatan terhadap nilai kemanusian, sehingga menjadi dasar etika sosial dan toleransi dalam ajaran Islam<em>.</em></p>Reza Afidatul MualifahAli Muhdi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052900911Akulturasi Islam dalam Budaya Jawa: Tradisi Sembogo Manten sebagai Warisan Adat Jawa Kota Solo
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4366
<p style="font-weight: 400;">Penelitian ini mengkaji akulturasi antara nilai-nilai Islam dan adat Jawa melalui tradisi Sembogo Manten yang dijalankan dalam prosesi pernikahan adat Jawa. Tradisi Sembogo merupakan ritual meniupkan asap rokok pada wajah pengantin yang dipercaya dapat membuka aura kecantikan pengantin dan memberikan keberkahan dalam rumah tangga. Ritual ini juga mengandung doa dan nilai spiritual yang mencerminkan perpaduan konsep kejawen dan ajaran Islam yang berkembang secara turun-temurun. Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana tradisi ini merefleksikan proses akulturasi budaya dan keagamaan di masyarakat Jawa serta implikasinya dalam kehidupan sosial budaya kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah historis-kualitatif dengan kajian literatur terhadap sumber-sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sembogo merupakan manifestasi harmonis dari percampuran ajaran Islam dengan kearifan lokal Jawa, yang berperan penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus menguatkan nilai spiritual dalam masyarakat setempat. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol pengukuhan status sosial dan budaya Jawa, namun juga representasi konkret bagaimana Islam dan Tradisi Jawa mengakar kuat dalam kehidupan keagamaan masyarakat Jawa. Temuan ini menekankan pentingnya tradisi lokal sebagai wahana aktualisasi nilai-nilai Islam yang bercorak keindonesiaan, sekaligus memperkuat pemahaman bahwa Islam Nusantara merupakan konstruksi kultural-historis yang dinamis dan inklusif. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian Islam lokal dan pelestarian warisan budaya Islam Nusantara.</p>Maratus Isnaini SholichahMuzaiyana
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052912924Tradisi Sanggring di Gumeno: Kajian Historis dan Religius dalam Tradisi Islam Lokal di Gresik
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4368
<p>Kolak Ayam atau biasa di kenal dengan tradisi Sanggring merupakan tradisi yang telah menginjak usia hampir 490 tahun dan hingga saat ini tetap dilaksanakan tepatnya di laksanakan pada malam 23 bulan romadhan di Desa Gumeno Gresik, dari sana banyak makna historis dan religius dalam konteks Islam yang terkandung, khususnya bagi masyarakat Desa Gumeno. Tradisi Sanggring yang menyajikan Kolak Ayam bukan hanya sekedar sajian khas, tapi juga sebagai ritual keislaman tepatnya peringatan penyambutan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengulik historis Kolak Ayam, nilai Islam yang ada didalamnya serta bagaimana peranan tradisi ini bagi masyarakan desa Gumeno. Dengan pendekatan historis serta etnografi, bisa di simpulkan bahwa tradisi ini bisa di kaitkan dengan dakwa Wali Songo, tepatnya Sunan Giri, dengan menggunakan makanan sebagai media dakwanya. Kolak Ayam, menjadi sebuah paduan yang selaras sebagai refleksi cita rasa, praktik ritual serta nilai-nilai historis dan keislaman, yang masih terjaga dan di wariskan sebagai sebuah perwujudan ekpresi dari agama serta kebudayaan setempat. Sehingga Kolak Ayam (Sanggring) merupakan sebuah perwujudan dari perpaduan antara historis, aspek keagamaan serta dapat menjadi jati diri Islam lokal. Tradisi yang terjaga ini juga melihatkan bagaimana peran kuliner sebagai media penyebaran ajaran Islam, upaya pengobatan dan juga pelestarian budaya.</p>Machalul Afandi HusaeniDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052925935Kemunduran Ishari dalam Bayang-Bayang Popularitas Banjari dan Habsyi di Sidoarjo
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3757
<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan seni hadrah di Sidoarjo serta faktor yang memengaruhi perbedaan popularitas antara ishari, banjari, dan habsyi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kepustaka dan analisis komparatif. Data dikumpulkan melalui telaah literatur berupa artikel jurnal, buku, laporan kegiatan, dan dokumen komunitas seni yang relevan. Sumber data meliputi publikasi akademik mengenai seni hadrah di Jawa Timur dan laporan praktik kesenian di masyarakat Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ishari sebagai seni hadrah tertua di Sidoarjo mengalami kemunduran popularitas, sedangkan banjari dan habsyi justru berkembang pesat. Perbedaan popularitas ditentukan oleh empat faktor utama, yakni musikalitas yang lebih variatif, partisipasi gender yang lebih inklusif, keberadaan media dan figur pionir, serta kemampuan beradaptasi dengan selera publik.</p>Ahmad Zuhda Bahrain ZamzamiAhmad Nur Fuad
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052936945MH Thamrin: Tokoh Asal Betawi yang menjadi Nama Jalan Protokol di Jakarta Pusat
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3646
<p>Setiap wilayah pasti memiliki sejarahnya masing-masing. Baik dari sejarah wilayahnya saja maupun perjuangan para tokoh yang mempunyai peran penting dalam peristiwa tertentu. Hal ini dapat terlihat dari berbagai bukti sejarah yang masih tersimpan hingga saat ini. Bukti sejarah biasanya berupa bangunan, tugu, patung, manuskrip dan lain sebagainya. Salah satu bukti sejarah yaitu adanya pemberian nama jalan yang didapat dari nama tokoh tertentu, seperti nama jalan MH Thamrin di Jakarta Pusat ini disematkan sebagai bentuk penghormatan akan pengabdian MH Thamrin dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah perjuangan MH Thamrin yang namanya dijadikan sebagai nama jalan protokol di Jakarta Pusat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif historis dengan mengumpulkan data melalui studi literatur dan dokumentasi arsip. Permasalahan pada penelitian ini mencakup, bagaimana peran dan perjuangan MH Thamrin dari awal karirnya hingga ia wafat, sejarah pemberian penghargaan nama jalan untuk MH Thamrin dan perkembangan jalan MH Thamrin saat ini. Hasil dari penelitian ini berupa penjelasan mengenai peran MH Thamrin dalam menyuarakan ide, gagasan dan aksinya ketika di pemerintahan maupun diluar pemerintahan.</p>Farah Dwi Khoirun NisaAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052946955Nyai Ahmad Dahlan dan Transformasi Peran Gender: Pemberdayaan Perempuan Muslim dalam Peradaban Muhammadiyah 1917-1945 M
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4335
<p>Dalam konteks peradaban Islam reformis di Indonesia pada masa kolonial, Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) tampil sebagai tokoh sentral yang menginisiasi transformasi sosial dan keagamaan, khususnya dalam dinamika peran perempuan Muslim. Penelitian ini berfokus pada kiprah dan pemikiran beliau dalam mendirikan organisasi perempuan <em>‘Aisyiyah</em> pada tahun 1917, yang menjadi bagian integral dari gerakan pembaruan Islam Muhammadiyah. Dengan menggunakan pendekatan sejarah sosial, penelitian ini memanfaatkan sumber primer berupa arsip organisasi, dokumen biografis, dan catatan pengajaran, serta didukung sumber sekunder dari karya akademik modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan Nyai Ahmad Dahlan tidak hanya menantang sistem patriarki tradisional dan dominasi kolonial, tetapi juga menghadirkan paradigma baru dalam pemahaman Islam yang menempatkan perempuan sebagai subjek aktif dakwah dan pendidikan. Melalui kegiatan <em>‘Aisyiyah</em>, beliau mendorong terciptanya ruang pendidikan, pengabdian sosial, dan dakwah berbasis kesetaraan yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan peradaban Muhammadiyah. Penelitian ini menegaskan bahwa peran Nyai Ahmad Dahlan memiliki kontribusi signifikan terhadap evolusi identitas Islam Nusantara, terutama dalam membangun kesadaran gender yang adil dan berkeadaban. Temuan ini memberikan pijakan penting bagi penguatan gerakan perempuan Muslim kontemporer dalam melanjutkan misi reformasi sosial-religius di Indonesia.</p>Veni Lailatul MauliddiyahImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052956963Genosdia Srebrenica: Pertarungan Identitas Agama dan Politik
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4031
<p>Penelitian ini membahas genosida Srebrenica tahun 1995 sebagai puncak dari konflik etnis dan politik identitas di Bosnia dan Herzegovina setelah runtuhnya Yugoslavia. Penelitian ini berfokus untuk menelusuri penyebab pecahnya perang Bosnia, peran politik identitas dalam pembersihan etnis, serta alasan terjadinya genosida meskipun Srebrenica berada di bawah perlindungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menggunakan metode penelitian sejarah atau heuristik dan analisis deskriptif terhadap sumber primer dan sekunder, penelitian ini juga menerapkan teori identitas sosial dari Henri Tajfel dan John Turner untuk menjelaskan bagaimana perbedaan identitas agama dan etnis dimanipulasi menjadi alat politik yang memecah masyarakat multietnis Bosnia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perang Bosnia dipicu oleh runtuhnya struktur politik Yugoslavia, krisis ekonomi, serta kebangkitan nasionalisme etnis yang dimanfaatkan oleh elite politik untuk memperluas kekuasaan. Identitas agama dan etnis digunakan sebagai alat propaganda dan pembenaran kekerasan yang berkembang menjadi pembersihan etnis terhadap Muslim Bosnia. Tragedi Srebrenica terjadi akibat lemahnya mandat PBB, ketimpangan militer akibat embargo senjata, serta kegagalan komunitas internasional dalam bertindak tegas. Kajian ini menegaskan bahwa politik identitas tanpa tanggung jawab kemanusiaan dapat melahirkan kekerasan struktural dan tragedi kemanusiaan berskala besar.</p>Aprilia Maharani PutriAchmad Zuhdi DH
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052964974Mendalami Makna Tradisi Kembang Endog Dalam Meperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3925
<p>Tradisi Kembang Endog merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dicetuskan oleh salah satu ulama yang bernama KH.Abdullah Faqih beliau juga merupakan murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan. tradisi ini juga merupakan identitas bagi masyarakat Banyuwangi. Tradisi ini juga merupakan symbol dari mensyukuri nikmat di dunia dan juga ketersambungan antara manusia dengan alam dunia ini. Tradisi kembang endog juga merupakan tradisi turun menurun yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi tradisi ini juga dapat mempererat tali silahturahmi antar sesama manusia antar sesama ras dan juga antar sesama agama. Tradisi ini mengambil dari kata kembang (bunga) yang memiliki makna kesuburuan dan juga endog ( telur) yang memiliki makna tentang kehidupan.Terdapat beberapa makna yang sangat mendalam pada Tradisi kembang endog tersebut Artikel Ini bertujuan untuk mendalami makna dari tradisi kembang endog yang di ciptakan oleh KH.Abdullah Faqih secara filosofis dan historis dan juga artikel ini bertujuan untuk memahami secara spiritual tentang tradisi tersebut.</p> <p> </p>Arjuna Syarif Pringgo NugrohoImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052975984Perempuan pada Masa Dinasti Abbasiyah Era Harun Ar-Rasyid (786 M): Peran Zubaidah Binti Ja’far sebagai Pemimpin Gerakan Sosial
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3737
<p>Penelitian ini mengkaji peran Zubaidah binti Ja’far sebagai perempuan berpengaruh dalam Dinasti Abbasiyah, khususnya sebagai pemimpin gerakan sosial yang berkontribusi pada perkembangan masyarakat dan kemajuan sosial pada masa kejayaan dinasti tersebut. Pembahasan artikel meliputi biografi Zubaidah, kontribusinya sebagai pemimpin gerakan sosial, serta dampak perannya terhadap masyarakat dan kebijakan sosial masa itu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kiprah Zubaidah dalam bidang sosial serta kontribusinya terhadap pembangunan peradaban Islam. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) yang mengumpulkan data dari sumber-sumber primer dan sekunder seperti manuskrip, kitab sejarah, jurnal, dan buku terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zubaidah, permaisuri khalifah Harun, bukanlah sekadar figur di istana, melainkan seorang pemimpin gerakan sosial yang aktif. Kontribusinya sangat signifikan, terutama dalam proyek monumental sumur dan saluran air yang dikenal sebagai Darb Zubaidah (Jalur Zubaidah) untuk para jamaah haji, pembangunan berbagai fasilitas publik, dan dukungan terhadap ilmu pengetahuan. Perannya memberikan dampak positif yang luas terhadap kesejahteraan publik, menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas besar dalam memengaruhi kebijakan dan pembangunan sosial di era tersebut.</p>Fahmia Nur AfifahAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-052985995Penerapan Program Imtiyaz dalam Pengajaran di Pondok Pesantren Al Hidayah Sidoarjo
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3899
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang penerapan program Imtiyaz sebagai kelas khusus untuk santri baru dipondok pesantren Al Hidayah Sidoarjo. Kelas Imtiyaz merupakan program pembelajaran yang menjadi ciri khas pondok pesantren Al Hidayah Sidoarjo, akan tetapi dalam mempelajari literatur tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih dalam. Penerapan program Imtiyaz dapat mengantarkan para santri yang baru masuk di dunia pesantren agar dapat lebih cepat dalam memahami kaidah-kaidah nahwu dan sharaf dengan mudah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Selanjutnya diolah menggunakan tehnik porpuseful, yaitu peneliti yang memiilih sendiri narasumber yang sesuai dengan kriteria/syarat informan penelitian. Berikutnya, dalam proses pelaksanaannya yang menggunakan sistem modul 6 jilid al-Miftah Lil Ulum, selain itu para santri juga diwajibkan untuk menghafal nadzam yang ada dalam al-Miftah, al-Fiyah ibnu Malik, dan Shofwatuz Zubad. Dari hasil implementasi yang dilakukan, dalam waktu yang relatif singkat santri dapat membaca kitab gundulan (tanpa harakat dan tanpa makna) beserta dengan tarkib (susunan) serta dalilnya (dasar-dasarnya). Karakteristik kelas Imtiyaz merupakan model pembelajaran yang mengedepankan pendekatan langsung antara kiai dan santri. Model tersebut lazimnya digunakan oleh kiai dan santri dalam mempelajari dan menerjemahkan kitab kuning. Implikasi dari kajian ini diharapkan dapat mendorong bahwa kelas Imtiyaz dapat dilestarikan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai suatu sistem pembelajaran.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang penerapan program Imtiyaz sebagai kelas khusus untuk santri baru dipondok pesantren Al Hidayah Sidoarjo. Kelas Imtiyaz merupakan program pembelajaran yang menjadi ciri khas pondok pesantren Al Hidayah Sidoarjo, akan tetapi dalam mempelajari literatur tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih dalam. Penerapan program Imtiyaz dapat mengantarkan para santri yang baru masuk di dunia pesantren agar dapat lebih cepat dalam memahami kaidah-kaidah nahwu dan sharaf dengan mudah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Selanjutnya diolah menggunakan tehnik porpuseful, yaitu peneliti yang memiilih sendiri narasumber yang sesuai dengan kriteria/syarat informan penelitian. Berikutnya, dalam proses pelaksanaannya yang menggunakan sistem modul 6 jilid al-Miftah Lil Ulum, selain itu para santri juga diwajibkan untuk menghafal nadzam yang ada dalam al-Miftah, al-Fiyah ibnu Malik, dan Shofwatuz Zubad. Dari hasil implementasi yang dilakukan, dalam waktu yang relatif singkat santri dapat membaca kitab gundulan (tanpa harakat dan tanpa makna) beserta dengan tarkib (susunan) serta dalilnya (dasar-dasarnya). Karakteristik kelas Imtiyaz merupakan model pembelajaran yang mengedepankan pendekatan langsung antara kiai dan santri. Model tersebut lazimnya digunakan oleh kiai dan santri dalam mempelajari dan menerjemahkan kitab kuning. Implikasi dari kajian ini diharapkan dapat mendorong bahwa kelas Imtiyaz dapat dilestarikan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai suatu sistem pembelajaran.</p>Eka Diektia Yuliastari
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-0529961005Pelestarian Kesenian Jedor di Era Modern: Upaya dan Tantangan di Desa Sendangagung, Paciran
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3913
<p>Kesenian Jedor adalah salah satu jenis tradisi budaya yang muncul dan berkembang di Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Kesenian ini tidak hanya berperan sebagai sumber hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang mendalam karena sering terkait dengan tradisi keislaman, seperti perayaan Maulid Nabi dan aktiviti keagamaan masyarakat setempat. Namun, seiring dengan masuknya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, keberadaan seni Jedor mengalami penurunan dalam minat serta regenerasi para pelaku. Penelitian ini memiliki tujuan untuk meneliti sejarah perkembangan kesenian Jedor, nilainilai budaya dan keislaman yang terdapat di dalamnya, serta mengidentifikasi berbagai usaha dan tantangan dalam proses pelestariannya pada era modern. Metode penelitian yang diterapkan adalah pendekatan sejarah serta kualitatif-deskriptif, menggunakan teknik observasi, wawancara, dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan kesenian Jedor masih sangat tergantung pada partisipasi aktif komunitas lokal dan bantuan dari pemerintah desa. Diperlukan pendekatan pelestarian yang kreatif dan fleksibel agar seni Jedor tetap ada sebagai bagian dari identitas budaya Islam lokal di tengah perubahan zaman yang terjadi.</p>Muhammad Khoirudin Muslimin
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210061017Benteng Peluru Kedung Cowek sebagai Saksi Bisu Strategi Militer Jepang di Surabaya (1942-1945): Kondisi Saat ini dan Upaya Pelestarian
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3914
<p>Benteng Peluru atau Benteng Kedung Cowek awalnya dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai tempat penyimpanan peluru dan bagian dari sistem pertahanan pesisir. Letaknya yang strategis di kawasan Kedung Cowek, Surabaya, memungkinkan pemantauan terhadap ancaman dari arah utara, terutama serangan dari laut. Namun, proyek ini terhenti akibat krisis ekonomi global dan keterbatasan anggaran militer. Meski tidak selesai sepenuhnya, benteng tetap dimanfaatkan oleh Belanda hingga akhirnya diambil alih Jepang pada masa Perang Dunia II melalui perjanjian dengan Hindia Belanda. Jepang memodifikasi struktur benteng dan menggunakannya untuk menyimpan amunisi serta memperkuat sistem pertahanan laut mereka. Awalnya, masyarakat Indonesia menyambut kedatangan Jepang dengan harapan akan kemerdekaan, tetapi kenyataannya Jepang melakukan penjajahan dalam bentuk yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, observasi lapangan, dan analisis sumber sejarah. Tujuannya adalah memahami peran strategis benteng ini dalam konteks militer kolonial dan pendudukan Jepang serta dinamika perjuangan kemerdekaan.</p>Intan NabilahAbd. A'laRochimah
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210181027Perempuan dalam Islamisasi Pesisir: Studi atas Dewi Sekardadu di Sidoarjo
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4374
<p>Kajian ini membahas peran Dewi Sekardadu sebagai tokoh perempuan dalam proses Islamisasi wilayah pesisir Sidoarjo, serta bagaimana masyarakat pesisir memaknai kontribusinya melalui sejarah dan tradisi lokal. Dalam konteks penyebaran Islam di Nusantara, perempuan sering kali memegang peranan penting namun kurang terangkat dalam kajian akademik. Dewi Sekardadu, yang dikenal sebagai putri Arya Teja dari Blambangan dan ibu dari Sunan Giri, menjadi simbol perempuan yang menjembatani budaya lokal dengan ajaran Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka dan penelusuran tradisi lisan masyarakat pesisir. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses Islamisasi di pesisir tidak hanya dilakukan oleh tokoh laki-laki, tetapi juga melibatkan sosok perempuan yang berperan dalam penguatan moral, spiritual, dan pendidikan keluarga. Tradisi nyadran laut, ziarah makam, serta narasi rakyat di Sidoarjo menjadi bukti bahwa figur Dewi Sekardadu tetap hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat. Selain itu, nilai-nilai keteguhan iman, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang tercermin dari sosoknya masih relevan untuk memperkuat peran perempuan Muslim masa kini dalam menjaga harmoni antara agama dan budaya.</p> <p>Kata kunci: Dewi Sekardadu, Islamisasi pesisir, perempuan, tradisi lokal, Sidoarjo.</p>Mochammad Yusril Fikri IlmansyahImam Ghazali Said
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210281036Prinsip Syarak Menurut Muhammad Asad dan Implikasinya dalam Tafsiran Nusus
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4384
<p><span lang="EN-US">Kertas ini mengupas pandangan hukum Muhammad Asad dalam bukunya<em> This Law of Ours and Other Essays </em></span><span class="apple-style-span"><span lang="EN-US">(<em>Hukum Syariat Kita Ini dan Esei-esei Lain</em>) dan melihat sejauh mana pengaruh dari aliran pemikiran Zahiri yang dikembangkan oleh Ibn Hazm al-Andalusi</span></span> <span lang="EN-US">(w. 456/1064) <span class="apple-style-span">mengesani penafsiran dan idealisme hukumnya. Ia berusaha menampilkan falsafah dan epistemologi hukum yang digarap dalam bukunya </span><em>This Law of Ours and Other Essays</em><span class="apple-style-span"> yang dipengaruhi oleh karya fiqh berjilid tebal Ibn Hazm, <em>al-Muhalla</em>. Kajian dirangka berasaskan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan menerapkan metode historis, tematik, semantik, hermeneutik, dan komparatif yang bersifat interpretatif, kritis dan analitik. Temuan kajian mendapati pandangan hukum Muhammad Asad banyak dipengaruhi oleh ideologi mazhab dari fiqh klasik Zahiri terutamanya dalam masalah ijtihad dan <em>nass</em>. Perbincangan hukum yang dirumuskannya banyak diilhamkan dari karya Ibn Hazm </span>yang berasal daripada kesimpulan dan doktrin hukumnya yang konservatif dan tradisional serta pemahaman <span class="apple-style-span">tekstualnya terhadap nas </span>yang cuba dikembangkan dalam konteks moden berhubung dengan persoalan syariat dan tujuan-tujuan spiritual dan sosialnya yang menentukan dalam kehidupan masyarakat luas sebagai “tabiat moral”<span class="apple-style-span">. </span></span></p>Ahmad Nabil AmirTasnim Abdul RahmanNur Sakiinah Ab Aziz
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210371056Kritik Nalar dan Memikirkan Kembali Islam Menurut Mohammed Arkoun
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3960
<p>Artikel ini mengkaji kritik nalar yang diajukan oleh Mohammed Arkoun dalam karyanya Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers. Arkoun menegaskan bahwa pemahaman tradisional terhadap Islam selama berabad-abad telah dipengaruhi oleh hegemoni otoritas keagamaan yang statis, sehingga menghambat perkembangan nalar kritis di dalam tradisi Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana Arkoun memperkenalkan pendekatan historis-kritis sebagai alat untuk “memikirkan kembali Islam” secara radikal, dengan menolak dogma-dogma yang mengeras dan membuka ruang bagi interpretasi kontekstual. Metode yang digunakan adalah analisis teks primer dari buku Rethinking Islam, dengan pendekatan hermeneutika historis dan kritik wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Arkoun menawarkan tiga lapisan analisis: teks (naskah), konteks sosial-historis, dan praksis interpretatif. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an harus dipahami sebagai produk sejarah yang terus menerus dibaca ulang, bukan sebagai teks sakral yang bebas dari perubahan makna. Dengan demikian, Arkoun tidak menolak Islam, tetapi menyerukan rekonstruksi epistemologisnya agar relevan dengan tantangan zaman modern. Temuan ini memberikan kontribusi signifikan dalam diskursus intelektual Islam kontemporer, khususnya dalam upaya membangun paradigma keislaman yang dinamis dan inklusif.</p>Ragil Wisnu Wardhana Priyo SashmitoImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210571064Studi Kasus Intoleransi dan Diskriminasi pada Masa Kekuasaan Dinasti Umayyah 660-750 M: Kajian Sosio-Historis
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4273
<p>The period of the Umayyad Dynasty’s rule from 660-750 AD was a very important era in Islamic history. It was the first time a dynastic form of governance was established in Islam. Furthermore, it can also be considered the peak of Islamic expansion. However, during this period, several cases of discrimination and intolerance against non-Muslims and non-Arabs also occurred. This study aims to examine cases of discrimination and intolerance towards non-Muslims and non-Arabs during the Umayyad rule, as an evaluation for us as Muslims today to prioritize tolerance (Tasamuh) towards fellow human beings, regardless of their religion, in order to realize a more harmonious life. This research uses historical research methods. From the primary and secondary sources we studied, we obtained the following results. 1) Acts of intolerance occurred during several military expeditions of the Umayyad Dynasty forces, such as the destruction of places of worship of other religions and intolerance against non-Muslims in political policies. 2) Reforms to address this were undertaken by Caliph Umar bin Abdul Aziz, who ruled from 717-720 AD; however, the short duration of Umar bin Abdul Aziz's rule caused these efforts to be halted in subsequent times. 3) Discrimination against non-Arabs during the late Umayyad Dynasty ultimately backfired, contributing to the collapse of the Umayyad Dynasty in 750 AD.</p>Restu Dimas PrasetyaMuhammad Bahrudin Rozi
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210651081Peran Islamic Circle of North America (ICNA) dalam Perkembangan Islam di Amerika Serikat (1980-2000)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3836
<p>Artikel ini membahas bagaimana Islamic Circle of North America (ICNA) berkontribusi pada kemajuan Islam di Amerika Serikat dari tahun 1980 hingga 2000. Periode ini merupakan periode pergeseran besar dalam sejarah komunitas Muslim Amerika. Penelitian ini menjelaskan peran ICNA dalam pendidikan Islam, konsolidasi komunitas, dakwah publik, dan hak-hak sipil. Ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan historis dan analisis sosial. Studi menunjukkan bahwa ICNA memiliki kemampuan untuk memadukan metode dakwah tradisional dengan pendekatan modern yang sesuai dengan konteks multikultural Amerika. Melalui ICNA Relief, organisasi ini aktif melakukan inisiatif sosial yang meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Islam. Selain itu, ICNA membentuk identitas Muslim Amerika melalui pembinaan keluarga, partisipasi dalam konvensi nasional, dan menyediakan tempat bagi generasi muda untuk berbicara. Penelitian menunjukkan bahwa ICNA memainkan peran penting dalam membangun karakter Islam Amerika modern pada akhir abad ke-20.</p>Alvian Ainur ConanDwi Susanto
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210821088Tradisi Babat Makam dalam Haul Sunan Drajat: Kontinuitas Nilai Sosial dan Religius Menjelang Ramadhan
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3398
<p>Tradisi babat makam merupakan salah satu praktik budaya religius yang hidup di masyarakat Drajat, khususnya dalam rangkaian peringatan haul Sunan Drajat yang bertepatan dengan menjelang bulan Ramadhan. Kegiatan ini berupa kerja bersama membersihkan makam Sunan Drajat beserta makam-makam di sekitarnya, yang tidak hanya dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan tokoh agama, tetapi juga sebagai wujud kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan nilai sosial dan religius yang terkandung dalam tradisi babat makam serta bagaimana tradisi ini tetap eksis di tengah arus modernisasi. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan wawancara tokoh masyarakat setempat. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi babat makam mengandung tiga dimensi utama: dimensi religius sebagai media menguatkan spiritualitas menjelang Ramadhan, dimensi sosial berupa penguatan solidaritas komunitas, dan dimensi budaya sebagai upaya melestarikan identitas lokal. Kesimpulannya, tradisi babat makam bukan sekadar aktivitas fisik membersihkan makam, melainkan juga simbol kontinuitas nilai yang mengikat masyarakat dalam bingkai religiusitas dan kebudayaan.</p>Moh Syarif Hidayat
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210891094Strategi, Taktik dan Bentuk Perlawanan Aceh terhadap Kolonial dalam Perang Aceh 1873-1912
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/3921
<p>Studi ini membahas peristiwa Perang Aceh yang menjadi salah satu sejarah panjang perang Islam di Indonesia yang dipicu dengan kedatangan Belanda ke tanah Aceh serta ambisinya untuk mengakuisisi wilayah Aceh yang tertulis pada Traktat Sumatera tahun 1871. Fokus isu yang dibahas pada studi ini ialah apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya Perang Aceh; bagaimana strategi dan taktik perlawanan rakyat Aceh; serta siapa tokoh-tokoh penting yang berperan dalam perjuangan tersebut. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan tentang berbagai upaya dan strategi bentuk perlawanan yang digunakan masyarakat Aceh untuk mempertahankan kedaulatan politik dan nilai nilai keislaman di tanah mereka.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan historiografis dengan metode <em>Library Research </em>(Studi Pustaka) dengan memanfaatkan sumber sekunder berupa buku sejarah dan jurnal ilmiah, dengan analisis data deskriptif-analitis. Hasil studi menunjukkan bahwa pemicu utama perang adalah tekad rakyat Aceh untuk mempertahankan kedaulatan politik dan nilai-nilai keislaman mereka dari intervensi kolonial. Strategi perlawanan yang diterapkan, yang sangat dipengaruhi dan dikoordinasikan oleh peran para ulama dan tokoh yang lainnya, mencerminkan perpaduan semangat jihad dan perjuangan nasional, yang menjadi kunci atas lamanya durasi perang ini.</p>Fajrinnisa Dhiya' FaatinaImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05210951104Kritik Historiografi: Penulisan Sejarah Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Historiografi Peradaban Islam
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4055
<p>Artikel penelitian ini bertujuan untuk membahas sejauh mana buku-buku hasil penelitian sejarah Peradaban Islam Ali Muhammad Ash-Shalabi terhadap Peradaban Islam dan memberikan solusi yang dinilai relevan dengan perkembangan historiografi sejarah Islam di setiap eranya. Menurut hasil studi pustaka saya terkait buku-buku sejarah Peradaban Islam karya Ali Muhammad Ash-Shalabi yang beredar cenderung sangat mengutamakan tokoh pemimpin Islam dan berbagai daulah Islam dengan prestasi gemilangnya di bidang politik dan militer serta terlalu dilebih-lebihkan kemuliaannya. Dari sini saya menggunakan metode penelitian sejarah Dudung Abdurrahman. Dari hasil penelitian langkah yang saya lakukan pertama saya mengumpulkan sebagian besar buku Sejarah Islam karya Ali Muhammad Ash-Shalabi dan meninjau ulang semua isi dari setiap bukunya serta membandingkannya dengan buku karya sejarawan lain yang dirasa lebih objektif dan lebih terbuka dengan kalangan muslim lain selain para elit politik tanpa bermaksud sedikitpun merendahkan buku-buku hasil karya beliau, kedua saya meninjau perkembangan sejarah aspek lainnya yang dikembangkan oleh kalangan non-elit pemerintah. Pebedaan yang mendasar dengan penelitian lain ialah kesetaraan saya dalam mengatur porsi narasi sejarah yang tak hanya berfokus ke elit politik, namun juga memperhatikan sumbangsih masyarakat Islam, terutama golongan intelektual yang berguna bagi perkembangan peradaban Islam.</p>Rayhan Faza Surya DaffaAkhmad Najibul Khairi Syaie
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05211051115Jaringan Maritim dalam Perspektif Abd. Rahman Hamid dalam Buku Makassar Mendunia (Analisis Bab I–II)
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4449
<p>Penelitian ini mengkaji perspektif Abd. Rahman Hamid mengenai jaringan maritim Makassar sebagaimana tertuang dalam Bab I–II buku <em>Makassar Mendunia</em>. Hamid memaknai laut tidak hanya sebagai jalur perdagangan, tetapi juga sebagai ruang sosial yang membentuk identitas masyarakat pesisir Makassar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif. Data primer bersumber dari teks Bab I–II buku <em>Makassar Mendunia</em>, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur terkait sejarah maritim dan kosmopolitanisme. Analisis dilakukan melalui pemaparan isi teks dan telaah teoretis dengan menggunakan kerangka teori jaringan sosial, kosmopolitanisme, historiografi maritim, dan interaksi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan maritim Makassar bersifat multidimensional. Makassar berperan sebagai simpul yang menghubungkan berbagai komunitas dan bangsa, sementara identitas masyarakat pesisir terbentuk melalui keterbukaan dan interaksi lintas budaya. Dengan pendekatan humanistik, Hamid menegaskan bahwa sejarah maritim merupakan sejarah manusia sebagai aktor utama dalam pembentukan peradaban Nusantara. Penelitian ini berkontribusi dengan menghadirkan pembacaan alternatif terhadap historiografi maritim Makassar melalui pendekatan humanis dan jaringan sosial.</p>Izzul ‘ArobyNyong Eka Teguh Iman Santosa
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05211161122Literasi Sarinah dalam Kehidupan Sosial-Budaya Moderen: Konflik dan Peranannya
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4007
<p>Sarinah adalah topik yang pernah dibawakan oleh Ir. Soekarno. Melihat tentang peranan perempuan dan laki-laki yang seharusnya sejajar. Menilik kembali fungsi yang sesungguhnya dari peran perempuan dan laki-laki. Sejalan dengan kehidupan sosial moderen, semakin banyak perdebatan mengenai hak perempuan dan laki-laki. Secara biologis, perempuan dan laki-laki memiliki fungsi yang berbeda. Masalah yang sesungguhnya bukan terletak pada sisi biologis, tapi dari sosial-budaya. Ketimpangan sosial-budaya ini yang menjadi awal mula pincangnya nilai kemanusiaan. Realita sosial juga membuktikan bahwa perempuan masih dipinggirkan dan terkekang oleh tradisi. Hal ini juga tidak lepas dari isu “Matriarchat dan Patriarchat”. Di bawah tradisi, perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah seperti laki-laki. Fenomena ini juga ditanggapi dengan fenomena lainnya, bahwasannya perempuan memiliki peran yang penting. Pentingnya peran perempuan sama pentingnya dengan peran laki-laki. Tidak ada yang harus dihinakan dan direndahkan diantara keduanya. Penulisan ini bertujuan untuk menilik kembali peran perempuan dan laki-laki. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah munculnya pergerakan dan pemberdayaan perempuan yang berjalan selaras dengan laki-laki.</p>Melisa SalsabilaImam Ghazali Said
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05211231131Prinsip Egalitarianisme dalam Piagam Madinah
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4634
<p>Piagam Madinah, yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, berfungsi sebagai kontrak sosial untuk mengatur hak dan kewajiban antar suku di Madinah, menciptakan kesetaraan, serta mencegah konflik. Sebelum piagam ini, Madinah mengalami peperangan antar suku, terutama antara Suku Aus dan Khazraj, yang diperburuk oleh perebutan kekuasaan dan sumber daya serta intervensi Suku Yahudi. Kajian ini menggunakan metode pengkajian sejarah dengan pendekatan sosiologi sejarah dan teori keadilan John Rawls. Analisis difokuskan pada prinsip egalitarianisme, meliputi kesetaraan hukum, kebebasan beragama, dan kebebasan berpendapat. Hasil menunjukkan bahwa Piagam Madinah menegaskan bahwa semua penduduk, Muslim maupun non-Muslim, tunduk pada hukum yang sama tanpa diskriminasi, serta menciptakan konsep Al-Ummah, yaitu masyarakat yang harmonis dan adil meski berbeda suku dan agama.</p>Adam Rizki Surya AlamsyahImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05211321145Surakarta dalam Arus Pergerakan Nasional Indonesia: Peran Elite Keraton dan Masyarakat
https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/4633
<p>Penelitian ini membahas posisi dan peran Surakarta dalam dinamika Pergerakan Nasional Indonesia pada kurun 1908–1945 M dengan menitikberatkan pada kontribusi elite Keraton Surakarta dan partisipasi masyarakat. Menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sosio-historis serta kerangka teori nasionalisme Benedict Anderson, penelitian ini menempatkan Surakarta sebagai ruang strategis tempat bertemunya kekuasaan tradisional, organisasi modern, dan dinamika sosial perkotaan dalam proses pembentukan kesadaran kebangsaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surakarta memiliki kedudukan penting sebagai simpul politik, ekonomi, dan kultural yang memungkinkan transmisi gagasan nasionalisme melalui jaringan transportasi, pers, pendidikan, dan organisasi sosial-keagamaan. Elite Keraton Surakarta berperan sebagai penyedia modal kultural dan legitimasi simbolik bagi pergerakan nasional, sebagaimana tercermin dalam dukungan Pakubuwono X terhadap organisasi modern serta peran Radjiman Wedyodiningrat dalam perumusan dasar negara melalui BPUPKI. Di sisi lain, organisasi-organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Taman Siswa berfungsi sebagai wadah sosialisasi ide-ide kebangsaan di kalangan masyarakat Surakarta. Penelitian ini menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia tidak semata-mata lahir dari wacana politik modern, tetapi juga dari integrasi tradisi lokal dan interaksi kolektif antara elite dan masyarakat akar rumput. Dengan demikian, Surakarta menjadi salah satu lokus penting dalam pembentukan identitas nasional Indonesia.</p>Arinal Haq MImam Ibnu Hajar
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam
2025-11-052025-11-05211461157